Bagaimana rumah kita?

Pagi ini, alhamdulillah masih Allah izinkan untuk menghirup udara lagi, untuk membuka mata lagi, dan untuk menerima kenyataan bahwa aku sedang hidup dalam negara yang ragu-ragu. Iya, aku merasa sedang hidup dalam negara yang halal dan haram sudah kian abu-abu.

Ah sudahlah. Aku tak pandai berbasa-basi. Pagi ini aku hanya ingin menuliskan hasil diskusiku dengan beberapa teman di  salah satu grup whatsappku. Kita tahu bahwa sekarang Indonesia sedang marak dengan berita tentang LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender). Banyak para pakar yang membahas ini, sehingga salah satu temanku pun memposting link youtube penjelasan dari salah seorang psikolog, Bunda Elly Risman, mengenai LGBT yang ternyata salah satu penyebabnya adalah dari pola pengasuhan orang tua sejak kecil. Secara pribadi, aku sangat sepakat dengan Bunda Elly bahwa tingkah laku seseorang dipengaruhi dari bagaimana dia diasuh, bagaimana peran orang tuanya. Iya, faktor pembentuk pribadi seseorang yang pertama adalah rumah. Sepakat.

Tapi, dalam grup whatsappku, ada salah seorang teman yang merasa tidak sependapat dengan pernyataan bahwa pola asuh sebagai penyebab utama, sehingga dia menyebutkan ada 4 faktor penyebab seseorang menjadi LGBT, yaitu gen, ekonomi, rumah, lingkungan. Temanku menguatkan argumennya dengan menyebutkan survey yang pernah ia temui bahwa ada orang yang mengidap LGBT padahal kondisi rumah atau keluarga orang tersebut baik-baik saja, sehingga temanku ini menguatkan bahwa rumah adalah benar faktor ketiga. Oke, dalam diskusi ini aku tidak mau banyak berdebat. Tapi secara pribadi, aku berbeda pendapat. Aku memiliki pandangan lain. Maaf jika ternyata aku agak mengacak-acak teori.

Menurutku, rumah adalah faktor utama. Rumah ini maknanya luas. Rumah ini mencakup keluarga, pola asuh, peran ayah dan ibu. Memang ada kita lihat seseorang memiliki keluarga yang baik, menurut kita. Lengkap ada ayah dan ibunya. Tapi yakinkah bahwa ayah dan ibunya menjalankan peran dengan baik sebagai orang tua? Jika orang tua menjalankan perannya dengan baik sebagai ayah dan ibu, menerapkan aturan kepada anak-anaknya, memberikan pemahaman agama, memberikan kasih sayang sepenuhnya, mengerti dan memperhatikan kondisi psikologis anak-anaknya, maka faktor yang lain dapat kita tiadakan.

Sedikit mengulas dari 4 faktor menurut temanku tadi, yaitu faktor Gen.

Aku tidak sepakat gen merupakan faktor utama, karena aku yakin Allah menciptakan manusia dengan sebaik-baik penciptaan, seperti yang Allah sebutkan dalam QS. At-tin: 4, “Laqod kholaqnaal insaana fiii ahsani taqwim”, yang artinya bahwa “sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.”

Allah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya, tidak mungkin ada yang terlahir dengan gen menyukai sesama jenis. Tidak mungkin. Tapi, beberapa orang mungkin ada yang bertanya “kenapa buktinya ada orang yang sejak kecil sudah memiliki kecenderungan menyukai sesama jenis?”. Oke, please coba kita lihat dengan pikiran yang terbuka, kita selidiki kondisi orang itu. Bagaimana keluarganya? Bagaimana peran ibunya? Bagaimana peran ayahnya? Jika ada seseorang laki-laki tidak menyukai wanita, mungkin karena dia sering mendapati pukulan dari ibunya, dimarahi, sehingga dia membenci ibunya, membenci wanita, tidak merasakan bagaimana pelukan ibu. Atau mungkin sebaliknya, ayahnya pemarah, kejam, dan suka memukul, sehingga dia mencari kasih sayang dari sosok laki-laki yang lain, mengagumi laki-laki yang lain, sehingga cenderung dia menyukai laki-laki. Hey, ayo perhatikan anak-anak kita wahai orang tua. Ayo selamatkan jiwa anak-anak kita. Ayo dengarkan mereka, ayo sayangi. Astaghfirullah, maaf jika aku terbawa emosi menulis ini. Oke, masih tentang faktor gen ini. Jika ternyata ada para pakar yang masih kukuh bahwa faktor gen benar-benar ada, aku ingin mengajak kita berpikir lagi. Jika ternyata memang ada seseorang yang memiliki gen kecenderungan kepada sesama, inipun akan bisa dikikis jika orang tuanya menjalankan perannya dengan baik. Jika orang tua memberikan pemahaman kepada anaknya bahwa di dunia ini ada laki-laki dan perempuan Nak, kita hidup berpasang-pasangan antara laki-laki dan wanita Nak. Maka, seorang anak ini akan tahu bahwa dia harus mencintai siapa sebagai pasangan hidupnya. Dia akan takut azab Allah, sebagaimana Allah mengazab kaum Nabi Luth kala itu. Jika seorang anak ini diberikan pemahaman agama  oleh orang tuanya, tentu dia tidak akan memilih hidup menjadi manusia yang dilaknat oleh Allah. Please, lagi-lagi, pola asuh orang tua.

Yang kedua adalah ekonomi.

Aku masih tidak sepakat jika faktor ekonomi dijadikan faktor sebelum rumah. Ekonomi ini berkaitan dengan kebutuhan hidup, berkaitan juga dengan gaya hidup. Semua dari kita pasti bisa membedakan antara kebutuhan hidup dan gaya hidup. Menurutku, faktor ekonomipun dapat diatasi jika seorang anak mendapatkan pemahaman yang baik dari orangtuanya tentang sebuah kesederhanaan dan kegigihan. Seorang anak yang terlahir dari keluarga yang tidak mampu, namun jika dia mendapatkan pola pengasuhan yang hangat dan baik dari orangtuanya, maka dia akan tumbuh menjadi anak yang gigih memperjuangkan hidupnya, gigih belajar agar bisa hidup layak karena ilmu. Pun, dengan diajarkan kesederhanaan, seorang anak tidak akan mudah terpengaruh dengan gadget terbaru atau barang-barang branded seperti yang dipakai orang lain. Dipahamkan tentang bagaimana mensyukuri yang ada dan mengusahakan yang belum ada dengan cara terbaik yang disukai Allah, bukan cara instan dengan melakukan hal-hal yang dilarang agama. Lagi-lagi, pemahaman agama kepada anak-anak.

Yang terakhir adalah Faktor lingkungan.

Sekarang ini hal-hal buruk tidak hanya dapat dilihat saat kita keluar rumah, tapi juga bisa berasal dari dalam rumah sendiri yaitu salah satunya dengan menggunakan handphone, tab, dan televisi. Sekarang ini kita lihat anak balita pun sudah pandai bermain gadget, dan anehnya orangtuanya bangga, padahal banyak sekali konten-konten yang tidak mendidik, yang tanpa sadar mempengaruhi perkembangan otak anak. Berbagai games yang tanpa sadar mengajarkan tentang kekerasan, tentang LGBT, kemudian ada iklan-iklan LGBT atau sejenis propaganda lainnya. Astaghfirullah. Begitupun televisi, bagiku televisi itu akan menjadi bermanfaat justru saat dimatikan. Banyak tayangan-tayangan yang tidak mendidik dan bahaya sekali jika anak dibebaskan menonton televisi. Jika orang tuanya menerapkan aturan yang cerdas mengenai kapan anaknya boleh menonton televisi, kemudian didampingi, maka insya Allah pengaruh buruk televisi tidak akan terjadi pada anak. Mengenai cara bergaul dengan lingkungan luar pun begitu, jika orang tua pandai menjadi sahabat bagi anaknya, maka anak akan menceritakan semua hal yang ada di luar rumah dengan orang tuanya. Menceritakan dengan siapa dia berteman, apa saja aktivitasnya, bagaimana perasaannya, apa masalahnya, dan ini momen terbaik bagi orang tua untuk memberikan nasehat dan arahan mengenai bagaimana seharusnya anak berada di lingkungannya, bagaimana bersikap. Selain itu, orang tua yang peduli pada anaknya maka akan memperhatikan detail bagaimana memilih sekolah. Memperhatikan kondisi guru dan sistem yang ada di sekolah untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. See, lagi-lagi butuh peran ekstra orang tua. Peran “rumah”.

Baiklah, demikian sedikit ulasanku mengenai hasil diskusi kala itu. Aku resah, sudah seharusnya para orang tua menyadari hal ini, menjaga harta berharga titipan Allah yang ada di rumah mereka, anak-anak mereka.

Maaf, aku memang tidak berkompeten membicarakan tentang pola asuh orang tua karena sejatinya aku belum menjadi orang tua, pun bukan psikolog pakar parenting. Tapi, tidak ada salahnya jika menyampaikan pendapat dari hasil belajar kan?🙂

Aku selalu suka dengan slogan Abah Ihsan “Yuk jadi orang tua sholeh”, dan slogan Ayah Edy “Strong from Home”… Yok yok yok.

Para ibu, yok menjadi ibu yang sebenar-benarnya ibu, dan untuk para ayah, jadilah ayah yang sebenar-benarnya ayah. Menjadi orang tua tidak ada sekolahnya, tapi semua dari kita memiliki kesempatan untuk menciptakan sekolah sendiri untuk diri kita, yok banyak belajar belajar belajar.🙂

 

Markas Inspirasi, 29 Februari 2016

“Tulisan yang sudah hampir 2 minggu ini tersimpan di laptop. Dipublish pada akhir Februari yang langka, diintip oleh rinai hujan dari jendela kamar. Ah indah sekali.”

Tertanda: Tria Gustiningsi

Tentang mutiarakeluarga

aku adalah orang biasa, tapi dengan semangat yang luar biasa tak pernah berhenti berjuang menggapai cinta Allah, dan berjuang mengukir senyum kebanggaan di wajah orangtua....
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s