Si sederhana yang hebat :)

Si sederhana. Aku menamainya “si sederhana yang hebat”. Iya, si sederhana yang tidak perlu menyebutkan kehebatannya, toh dengan tampil sederhana justru membuatnya semakin bertambah hebat. Ah, aku rindu sekali. Seharian ini aku mencarinya, mencarinya dalam pikiranku.

Huh, hari ini ada agenda di kampus kami. Berkumpulnya para alumni magister pendidikan matematika Universitas Sriwijaya. Tentu saja aku mencari teman (yang sekaligus kuanggap bapak) semasa aku kuliah, tapi tak kutemui. Ku telepon, tapi nomornya tidak aktif. Selama acara berlangsung, aku merasa seperti ada yang kurang hari ini, seperti ada yang hilang. Sekilas terbayang semangat Pak Marion yang luar biasa.

Iya, dia adalah Pak Marion. Seorang bapak yang hampir seumuran dengan Bapakku. Tapi anak-anaknya masih usia SMP. Beliau sering bilang, “kalau dulu Bapak nikah muda, anak Bapak yang pertama pasti seumuran kamu.”

Usia Pak Marion adalah 2x lipat usiaku.

Ah meski usianya jauuh diatasku, tapi semangatnya tidak kalah. Bahkan aku yang sering berlari tergopoh-gopoh mengejar ketertinggalan semangat. Beliau sungguh luar biasa. Beliau adalah teman sekelas yang menyenangkan diajak berdiskusi. Ide-idenya cemerlang dan inovatif. Ah pantas saja beliau mendapatkan predikat sebagai guru berprestasi tingkat Nasional.

Pak Marion, beliau biasanya memanggilku dengan sebutan “adik bungsu”. Ya, aku paling muda di kelas. Namaku Tria, aku senang dipanggil “iya”, dan beliau pun juga sering menyapaku dengan sebutan “iya”. Beliau memang paling tahu bagaimana caranya menyenangkan hati orang lain walau melalui hal kecil seperti itu.

Pak Marion, aku tahu beliau orang sibuk. Ah mungkin kita disibukkan oleh kesibukan kita masing-masing ya pak sehingga sudah lama sekali kita tidak berkomunikasi. Aku ingat betul, sejak kita wisuda tanggal 20 Agustus 2015.

Pak Marion, teman seperjuangan. Benar2 seperjuangan. Banyak suka duka perjalanan kuliah bersama beliau. Tertawa, menangis, sedih, gembira, semangat, lelah. Pernah menyaksikan wajah beliau yang murung saat merasa penelitiannya tidak “berhasil”. Menyaksikan kegalauan beliau karena merasa tulisannya tidak sempurna. Oh Bapak. Lalu menyaksikan lagi semangatnya tampil total menjadi guru model untuk penelitian orang lain. Oh Bapak, aku banyak belajar tentang ketulusan.

Pak Marion, lelaki sederhana yang selalu rendah hati. Yang selalu melihat masalah dari berbagai sudut pandang, yang selalu mencoba berpikir melingkar. Oh Bapak, aku banyak belajar berprasangka baik.

Pak Marion. Partner gila-gilaan. Kita mengirim tulisan ke forum international, lalu loloosss.. Ah iya bapak, ingatkah Bapak bahwa tulisan kita lolos di tingkat international? Ingatkah Bapak dengan katroknya kita transfer uang ke luar negeri? Pertama kalinya dalam hidup kita transfer uang dalam bentuk dollar ke luar negeri, ternyata ribet ya pak, banyak yang mau diisi. Hahaaa.. Bapaaaak, iya rindu..

Bapaaakk, ingatkah Bapak waktu kita ikut workshop writing international yang narasumbernya adalah Dolli Van Erde dari Utrecth University? Aku bertanya dan berdiskusi ini dan itu dengan Dolli, dan Bapak mengangguk2 memahami. Tapi, saat keluar kelas, Bapak bilang “sebenarnya aku ga ngerti Iya tadi diskusi apa sama Dolli”. Hahaaaaaaa. Bapaaaakkkk.

Pak Marion, jika duduk dengannya, pasti berdiskusi tentang pendidikan, tentang masa depan, tentang mimpinya yang katanya ingin jadi guru saja (padahal beliau sudah berkali-kali ditawari untuk diangkat menjadi ini dan itu oleh diknas). Pak Marion bilang “Iya, bapak senang menjadi guru. Bapak bahagia menjadi guru. Bapak merasa ilmu Bapak berguna ketika Bapak menjadi guru. Masih banyak yang ingin Bapak perbuat agar matematika ini menyenangkan. Sungguh, Bapak tidak ingin jabatan. Bapak ingin murid Bapak bahagia belajar.”

Bapak, pantas saja ketika aku update status menyebut namamu di bbmku tadi sore, ada temanku yang langsung berkomentar. “Tria, Pak Marion itu gurunya temanku. Temanku itu sering sekali bercerita tentang Pak Marion. Bahkan aku sampai hafal ceritanya saking seringnya dia mengulang-ulang ceritanya. Temanku sangat bangga dengan guru SMPnya itu.”

See, banyak yang mengagumimu Pak. Termasuk aku. Engkau teman sekaligus guru bagiku pak. Guru yang bersahaja, sederhana, gigih, bersemangat, rendah hati, cerdas, hebat, dan religius.

Ah iya, ada sesuatu yang selalu kuingat juga hingga sekarang. Bapak pernah berkomentar tentang rok yang terjuntai hingga menyentuh tanah dan orang yang duduk lesehan di sembarang tempat. Bapak bilang, “Iya, roknya diangkat kalau kepanjangan, kan menyentuh lantai, kita ga tahu lantainya bersih ataupun tidak, apakah ada najis, kan nanti kalau mau sholat pakaian kita harus bersih semua, pastikan tidak ada najis. Begitupun dengan duduk lesehan di lantai. Jika iya memang butuh duduk di lantai, cari alas yang membuat iya yakin bahwa pakaian iya tetap bersih.”

Terima kasih sudah mengingatkan Iya pak.

Pak Marion. Huh, aku benar-benar merindukannya. Tadi sore kucari nomornya yang aktif, ingin sekali bertanya kabarnya. Alhamdulillah ada teman yang mengetahui nomor terbarunya. Langsung saja ku telpon pukul 20.00 malam tadi, tidak diangkat. Aku berpikir mungkin si Bapak sudah tidur. Tapi, ku coba lagi telpon. Tidak diangkat lagi. Akhirnya kuputuskan untuk meletakkan HPku. Tapi beberapa detik kemudian, terlihat nomor Pak Marion meneleponku. “Assalamu’alaikum” , jawabku.

“Wa’alaikumussalam,” suara dari seberang sana. Tapi suara perempuan, istrinya Pak Marion. Aku bilang “ibu, ini tria.”

“iya Tria, Bapak lagi kondangan Nak, ini hp Bapak ditinggal di rumah, nanti telpon lagi aja ya Tria,” jelasnya dengan ramah.

Istri Pak Marion telah mengenalku dengan baik. Kami sudah beberapa kali bertemu dalam berbagai kesempatan. Bagiku, beliau adalah istri yang hebat, karena mampu memotivasi seorang Pak Marion hingga tampil menjadi pribadi yang hebat.

 

Well, menulis Pak Marion tidak akan ada habisnya. Semoga beliau selalu sehat. Aamiin Allahumma Aamiin.

 

Markas Inspirasi, 6 Februari 2016

“Teman berdiskusi yang rendah hati”

Tertanda: Tria Gustiningsi

 

 

Tentang mutiarakeluarga

aku adalah orang biasa, tapi dengan semangat yang luar biasa tak pernah berhenti berjuang menggapai cinta Allah, dan berjuang mengukir senyum kebanggaan di wajah orangtua....
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

2 Balasan ke Si sederhana yang hebat :)

  1. ncepp berkata:

    Masya Allah. Kereennnnn..
    Pengen jadi cak pak marion jg, mb.. 😍😍

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s