Nak, aku mencintaimu

Anak.

Jika ditanya “apa arti anak”, maka jawabannya pasti beragam. Ada yang bilang “anak adalah anugerah” atau “anak adalah penyejuk hati”, atau “anak adalah pelipur lara”, atau“anak adalah titipan”. Iya, semuanya benar.

Anak adalah titipan. Anak adalah aset berharga yang dipercayakan Allah kepada para orang tua. Anak adalah kertas putih yang kemudian orangtuanya yang menjadikannya berwarna apa saja. Sesuai dengan hadits yang diriwayatkan oleh al-Baihaqi dan ath-Thabarani bahwa “setiap anak yang lahir dilahirkan di atas fitrah hingga ia fasih (berbicara), maka kedua orang tuanya lah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”

Kita yang sekarang adalah kita yang dibentuk dulu. Kita yang sekarang adalah “anak-anak” di masa lalu. Karakter kita yang sekarang adalah hasil asuhan orang tua saat kita kecil dulu.

Sebagai seorang wanita yang tidak tahu apa-apa, yang belum menikah (apalagi punya anak), selalu ada rasa ingin tahu yang besar sehingga mendorongku untuk terus bersemangat mencari tahu mengenai bagaimana caranya mendidik anak. Entah sudah berapa kali dan berapa banyak aku mengikuti seminar atau membaca buku-buku tentang parenting. Terserah orang mau bilang apa. Aku hanya ingin menjadi seseorang yang menjaga titipan Allah dengan baik. Aku ingin nantinya menjadi ibu yang cerdas. Sering rasanya ingin menangis jika melihat ada seorang ibu yang mencubit, berteriak di depan wajah anaknya, memaki-maki berkata ini dan itu, menyalahkan, memukuli. Ya Rabb, mengapa banyak orang yang menyatakan sudah siap menikah tapi nyatanya tidak siap menjadi orang tua? Berkecamuk rasanya, sesak dadaku jika melihat ada anak yang diperlakukan seperti itu. Di pasar, di jalan, tetangga dekat rumah, ah banyak.

Nak, aku akan terus belajar mengenalimu. Nak, aku akan terus belajar bagaimana cara memahamimu. Nak, aku mencintaimu bahkan sejak engkau belum ada di rahimku.

 

Markas Inspirasi, 6 Februari 2016

“Ditulis dengan tersedu. Terbawa susasana setelah berdiskusi banyak dengan seorang guru yang peduli anak, tadi sore.”

Tertanda: Tria Gustiningsi

Tentang mutiarakeluarga

aku adalah orang biasa, tapi dengan semangat yang luar biasa tak pernah berhenti berjuang menggapai cinta Allah, dan berjuang mengukir senyum kebanggaan di wajah orangtua....
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

2 Balasan ke Nak, aku mencintaimu

  1. ncepp berkata:

    Mb, sering2 nulis ck ini yo mb. Ncep suka baca ny.. ☺😁

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s