Merengkuh hikmah yang berserak

Dalam hidup ini, banyak sekali yang telah terjadi. Detik berganti menit, hari berganti bulan, dan begitu seterusnya. Sadarkah bahwa begitu banyak yang telah terlewati, begitu banyak kejadian yang Allah tempah kepada kita, dan artinya begitu banyak pula hikmah yang Allah selipkan pada setiap jiwa. Rabb, maafkan karena mungkin aku lebih banyak lalai daripada berjaga.

Dan aku, sedang berada pada suatu titik. Mengumpulkan hikmah-hikmah yang berserakan. Merengkuh rahman dan rahiim Allah dari setiap kisah. Tersadar sesadar-sadarnya bahwa sungguh semua yang ada di dunia ini adalah milik Allah, dan akan kembali ke Allah.

Dan sungguh semua yang ada pada diri kita adalah sementara, suatu saat akan Allah ambil kapan saja. Dan, apa pelajarannya? Sungguh tidak ada secuil pun hal yang pantas untuk kita sombongkan dihadapan manusia, tak ada setitik pun yang murni jerih payah kita sendiri, semuanya adalah karena kasih sayang Allah.

“Tiada masuk syurga orang yang dalam hatinya terdapat kesombongan walau sebesar biji sawi.”

(HR. Muslim)

Hal pertama kali yang harus dan patut kita lakukan adalah bersyukur. Bersyukur untuk setiap keadaan yang Allah jadikan. Mensyukuri semuanya. Semuanya.

Apapun yang sedang Allah jadikan pada diri kita sungguh ada banyak kebaikan yang terkadang kita tak mampu menyadarinya. Kita mungkin sering mengeluhkan hidup, ingin begini dan begitu. Tapi sadarkah bahwa banyak sekali orang di luar sana yang sesungguhnya menginginkan hidup seperti hidup kita. Oh Allah, betapa banyak dosa kami. Lailahailla anta subhanaka innikuntu minadzalimin.

Ah aku jadi teringat beberapa hari lalu aku sempat bilang pada temanku bahwa “aku sebenarnya ingin jadi guru”. Dan setelah berkata itu, sungguh tak berhenti aku istighfar sepulangnya. Astaghfirullahaladzim. Allah, aku takut. Rabb, maafkan aku. Aku takut jika ternyata itu Engkau anggap sebagai keluhan,  aku tak bermaksud begitu Rabb, sungguh. Rabb, sungguh aku bahagia untuk hidup yang kujalani. Terima kasih untuk semua skenario indah dalam hidupku Rabb. Terima kasih.

Oh Allah, terima kasih karena telah mengijabah alunan doa yang setiap hari kulaporkan padaMu. Sejak dulu, sejak duluuu sekali aku selalu mengulang-ngulangnya, menangis dan takut jika Engkau tak kabulkan. Rabb, sekarang aku melihat satu persatu doa itu terkabul. Alhamdulillah, terima kasih Rabb. Fabiayyi alaa irabbikumatukadziban.

Rabb, ampuni dosaku Rabb, ampuni dosa orangtuaku, ampuni dosa saudara-saudaraku, dan semua muslimin dan muslimat. Ampuni jika hati kami lalai Rabb. Ampun. Rabb, jaga kami Rabb. Please. Ridhoilah setiap langkah yang kami jalani, lindungi kami dari niat jahat orang lain maupun niat jahat yang timbul dari diri sendiri, genggam hati kami Rabb, sayangi kami, ampuni dosa kami. Hanya kepadaMu kami kembali, hanya kepadaMu kami mengadukan hidup kami, Engkau Maha Menguasai segala sesuatu.  Ya Rahman Ya Rahim, terima kasih karena engkau telah menuntun hati kami, istiqomahkan kami Rabb.

Aamiin Allahumma Aamiin.

Tentang mutiarakeluarga

aku adalah orang biasa, tapi dengan semangat yang luar biasa tak pernah berhenti berjuang menggapai cinta Allah, dan berjuang mengukir senyum kebanggaan di wajah orangtua....
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s