Aku justru lupa

Izinkan aku menapaki belahan bumiMu yang lain Ya Rabb..

Aku. Masih menggantungkan mimpiku ke langit, tak akan kulepas. Aku yakin suatu saat Allah akan sampaikan dengan cara terbaik.

Setiap kali melihat foto teman-teman yang berseliweran di medsos, foto mereka saat di bawah menara eiffel, di depan kincir angin, disamping bunga tulip, dihamparan salju, dan yaaaa… Aku seketika kembali pada memory lama. Kembali pada cita-cita untuk belajar di sana, yang pada saat itu tinggal selangkah lagi kugapai.

Allah, aku teringat lagi masa itu.

Tapi, bukankah menuruti permintaan ibu adalah hal yang mulia?

Aku tidak boleh menyesal. Ah tidak. Aku memang tidak menyesal. Aku hanya tiba-tiba teringat.

 

Bukankah sesuatu yang menurut kita baik, belum tentu baik menurut Allah kan? Allah Maha Mengetahui.

Sedikit flash back pada kegiatan-kegiatan yang telah aku lalui selama 1 tahun terakhir ini. Hm, aku menjalani hidup sebagai seorang guru di salah satu sekolah islam di Palembang, yang disana aku menebar semangat yang luar biasa kepada anak didikku. Yang disana aku berusaha sekuat tenaga mengubah paradigma mereka terhadap matematika. Matematika yang awalnya dianggap sulit, menjadi sangat menarik. Disana, aku mendidik karakter. Disana, aku melatih anak didikku untuk mengikuti berbagai kompetisi di bidang matematika, dan alhamdulillah sejauh ini, sebagai pemula, anak didikku termasuk peserta yang diperhitungkan dan dijadikan saingan berat oleh para pemenang yang sudah berkali2 menang itu.

Oh menjadi guru itu sangat membahagiakan. Dengan menjadi guru, aku bisa menjadi semuanya. Aku sebagai educator, motivator, psikolog, semuanya.

Ah, membahagiakan sekali.

Selain menjadi guru, aku juga menjalani hariku sebagai mahasiswa pasca sarjana. Ya, ibu memaksaku hidup-hidup untuk mendaftar kuliah lagi disana. Oh ternyata begini rasanya menjadi mahasiswa sambil bekerja. Luar biasa.Aku menjadi sangat ahli mempartisi waktu menjadi beberapa bagian.

Sebagai mahasiswa pasca sarjana, aku bersyukur berada di kelas yang luar biasa, yang di dalamnya berisi orang-orang hebat yang membuatku terkagum-kagum. Di kelasku, ada guru berprestasi tingkat Nasional yang beberapa bulan lalu menjadi delegasi di Finlandia, yang beberapa bulan lagi beliau akan menjalani Umrah sebagai salah satu hadiah prestasinya. Dikelasku, aku bertemu dengan guru matematikaku yang sangat aku idolakan saat SMA dulu. Beliau adalah guru yang selama ini aku cari-cari karena sungguh aku ingin bersalaman dan memberitahu bahwa muridnya satu ini mengikuti jejaknya di bidang matematika. Dan heyy, siapa sangka ternyata aku justru menjadi teman sekelas guruku sendiri. Sekarang beliau sudah menjadi penatar di LPMP, yang setiap bertemu aku selalu bertanya ini dan itu mengenai kurikulum 2013 dan lain-lain mengenai pendidikan.

Di kelasku, banyak guru dan kepala sekolah hebat dan kreatif yang humble dan bersemangat membagi ilmunya ini dan itu mengenai pendidikan, yang selalu membuatku terpacu untuk terus berkarya ini dan itu.

Di kelasku, aku jadi adik bungsu (lagi), yang membagi keceriaan dan semangat anak muda yang menggebu-gebu. Ayok ikut ini, ayok ikut itu.. Hingga akhirnya, kelasku ini dinilai sebagai kelas yang kompak dengan kehebohan sana sini. Haaa😀

 

Selain sebagai guru dan mahasiswa, aku bersama teman-temanku yang kece dan luar biasa, mencoba mewujudkan mimpi besar kami untuk membangun sebuah sekolah. Namun, diawali dengan Rumah Belajar yang kami namai Rumah Belajar Ceria (RBC).

Di RBC, akupun menemukan kebahagiaan yang luar biasa. Bersama lebih kurang 19 kakak-kakak pengajar, kami mengukir indahnya masa muda kami, membagi keceriaan kepada adik-adik lugu yang bersemangat belajar.

Membagi keceriaan di sebuah desa yang memiliki kekurangan sana sini namun bahagia itu. Di RBC, rinduku selalu menjadi berlipat-lipat dengan tepuk semangat dan teriakan-terakan riuh itu. Di RBC, ahh aku bahagia sekali.

Rumah kayu yang sederhana namun bersahaja itu menyimpan banyak kisah untuk kami kenang. Doakan kami semoga RBC terus berkembang hingga betul-betul bisa menjadi sekolah formal untuk anak-anak yang tidak mampu, yang disana mereka tidak hanya belajar akademik saja, namun menjadi seorang penghafal quran. Aamiin Allahumma Aamiin.

 

Selain 3 kegiatan itu, aku tetap menjadi seorang yang terus belajar di lingkaran cahaya bersama sahabat-sahabat meneduhkan yang selalu membuat hati malu karena dosa, dan selalu membuat hati bergemuruh mencintai Allah dan Rasul.

Aku juga masih bisa berdiskusi dan mengobrol hikmah dengan teman-teman kuliahku dulu, bersama.

Dan, yang paling penting, aku tetap menjadi anak yang tiap pekan bisa mudik bertemu memandangi wajah ayah dan ibu, mencium tangan mereka, merasakan lembutnya tangan ibu memegang wajahku, dan mendengar langsung doa ayah dan ibu untuk kebaikanku.

 

Allahu Akbar. Nikmat Tuhan yang mana lagi yang aku dustakan?

Allah, terima kasih atas semua nikmat yang Engkau berikan Ya Rabb.. Maafkan aku jika selama ini aku sering lalai dan lupa..

Banyak pembelajarn hidup yang Engkau ajarkan padaku, memberiku pundak yang kuat. Alhamdulillah.

Betul-betul, Ridho Allah terletak pada ridho orang tua.

 

 

Markas Inspirasi, 23 Juli 2014

Tertanda: Tria Gustiningsi

Tentang mutiarakeluarga

aku adalah orang biasa, tapi dengan semangat yang luar biasa tak pernah berhenti berjuang menggapai cinta Allah, dan berjuang mengukir senyum kebanggaan di wajah orangtua....
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s