Surat untuk Bunda

Ibu, sedang apa disana? Aku rindu. Adakah ibu rindu padaku? Ah seharusnya tak perlu kutanyakan lagi, sudah pasti ibu rindu. Iyakan bu?
Bu, sedang memasak apa hari ini? Aku rindu masakanmu Bu.
Bu, aku rindu di dekat ibu, rindu bercerita tentang banyak hal.

Bu, aku rindu ibu membuatkan segelas susu hangat untukku disaat aku sedang belajar atau sedang khusyuk memandangi laptopku.
Bu, saat di rumah, aku paling suka mati lampu. Kenapa? Karena saat mati lampu, kita semua akan berkumpul di ruang keluarga mendekati sumber cahaya, lalu ayah dan ibu akan bercerita tentang masa lalu, tentang bagaimana dulu susahnya ayah dan ibu bersekolah, tentang bagaimana dulu pertemuan antara ayah dan ibu, tentang bagaimana dulu melahirkan kakak, melahirkan aku, tentang bagaimana dulu aku masih kecil, bagaimana dulu kakak padahal baru kelas 4 SD tapi sudah punya gebetan dan punya 1 buku diary bersama gebetannya. Haaaa … Bu, mati lampu, dan apalagi jika ditambah hari hujan. Ah seru sekali.
Bu, aku rindu.
Bu, beberapa minggu ini aku mendapatkan pelatihan hypnotherapy yang difasilitasi dari sekolah, dalam salah satu therapy kami diajak untuk mengingat orang tua. Lalu, dalam therapy itu kami diminta untuk menghadirkan wajah orang tua, lalu memaafkan kesalahan-kesalahan atau tindakan yang tidak disenangi yang pernah dilakukan oleh orangtua. Hm, tapi aku sama sekali tak bisa membayangkan kesalahan-kesalahan itu. Mengapa? Karena bagiku kalian sama sekali tidak pernah melakukan kesalahan apapun atau tindakan yang tidak menyenangkan, sama sekali tidak pernah. Saat aku hadirkan wajah kalian, ayah ibu, aku tersenyum-senyum, karena aku membayangkan wajah kalian yang selalu tersenyum, tenang, penyayang, sejuk, dan menentramkan. Aku justru menangis karena aku bahagia memiliki ayah dan ibu seperti kalian. Aku menangis karena betapa Allah sayang padaku, aku bersyukur ditakdirkan berada dalam keluarga kita, aku bersyukur lahir dari rahimmu Bu. Hatiku penuh dengan orang-orang yang aku sayangi dan menyayangiku, bahagiaku berlipat-lipat. Inilah salah satu sebabnya mengapa setiap harinya aku selalu tersenyum dan bersemangat. Hidupku indah.

Ibu, ayah, aku rindu.

 

 

Markas Inspirasi, 18 Juni 2014
Tertanda: Tria Gustiningsi

Tentang mutiarakeluarga

aku adalah orang biasa, tapi dengan semangat yang luar biasa tak pernah berhenti berjuang menggapai cinta Allah, dan berjuang mengukir senyum kebanggaan di wajah orangtua....
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s