Katanyasihtahunbaru

31 desember, sebagian besar orang riuh membuat janji dengan teman-teman atau menyusun rencana dengan keluarga untuk merayakan malam “yang katanya tahun baru”, padahal sudah jelas bahwa malam pergantian tahun sudah berlalu beberapa bulan yang lalu, 1 Muharram.

Adakah mereka merayakan 1 Muharram semeriah dan seheboh malam 1 januari? Wallahu’alam..

Sungguh sedih tiap kali menyadari kondisi ini. Aqidah sebagian besar muslim sudah mulai terkaburkan. Naudzubillahi mindzalik.

Bimbing kami Ya Allah, genggam hati kami Ya Rabb, tunjukkan kepada kami jalan yang lurus, jalan yang Engkau ridhoi. Aamiin.

Ditengah kehebohan orang-orang menyambut “yang katanya sih tahun baru”, aku dan keluarga mengadakan perjalanan ke kampung halaman. Bukit tinggi. Ya, alhamdulillahh diberikan kesempatan oleh Allah. Ayah, ibu, kakak libur, dan aku alhamdulillah diberi izin oleh sekolah.

Yeay, Go!

Kami berangkat menempuh jalan darat, beranjak sekitar pukul 11 tanggal 31 Desember. Malamnya kami masih berada di perjalanan. Ini malam “yang katanya sih tahun baru”, sehingga riuh dan banyak sekali terdengar suara kembang api atau petasan yang diledakan orang di jalan-jalan.

Suara kembang api dan  petasan berkali-kali membuat aku terkaget, sampai-sampai aku terbangun dari lelap. Ya Allah, jika suara petasan saja membuat sebegini tidak nyamannya, bagaimana dengan suara tembakan-tembakan yang dirasakan oleh saudara-saudara kita di Gaza?

Ah, mereka pasti tidak nyenyak tidur. atau jangan-jangan mereka tidak sempat tertidur? Allahu Akbar, lindungilah saudara-saudara kami di sana Ya Allah.

Engkaulah sebaik-baik penolong Ya Rabb.

 

Untuk semua saudara seiman dimanapun berada, mari sejenak kita bermuhasabah. bertanya pada diri tentang sudah berapa besar kesalahan-kesalahan yang kita lakukan terhadap Allah, Rasul, maupun saudara-saudara kita. Adakah kita ingat? Jangan terlalu lepas berbahagia. Ayolah.

 

Tengah malam, pukul 01:50.

Masih di perjalanan.

Mencoba memaknai tiap detik perjalanan yang sudah lama aku rindukan.

Tertanda: Tria Gustiningsi

Tentang mutiarakeluarga

aku adalah orang biasa, tapi dengan semangat yang luar biasa tak pernah berhenti berjuang menggapai cinta Allah, dan berjuang mengukir senyum kebanggaan di wajah orangtua....
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s