Karakter!

Pendidikan karakter. Ya, sudah sering sekali kita dengar istilah ini. Salah satu tujuan kurikulum pendidikan yang didengung-dengungkan oleh Menteri Pendidikan. Ya, sudah berapa banyak buku pula yang telah aku khatamkan untuk memahami istilah “Pendidikan Karakter” ini agar bisa kuterapkan pada diri, anak-anak, murid, ataupun orang lain.

Hm, aku hanya ingin sedikit sharing bagaimana caraku menerapkan pendidikan karakter kepada anak didikku. Ah, mengapa tiba-tiba ingin menceritakan ini? Ya, salah satunya karena aku tak bisa membendung rasa bahagia yang ada disini -hati- , kemarin untuk kesekian kalinya aku membuktikan bahwa anak-anakku manis sekali🙂

Dalam pembelajaran, selalu kutanamkan dalam diri murid-muridku agar memiliki sifat yang jujur, percaya diri, pantang menyerah, menghargai pendapat orang lain, sopan, dan yaa banyak lagi.

Pada awal pertemuan dengan mereka, saat pertama kalinya aku menginjakkan kaki ke kelas mereka untuk memperkenalkan biodata diri, memperkenalkan bahwa aku mengampuh mata pelajaran matematika, dan lain-lain, aku juga menyampaikan kepada mereka mengenai aturan-aturan yang berlaku selama mengikuti pembelajaran di kelasku. Salah satunya adalah: saat ulangan (apapun itu), baik ulangan harian, mid, maupun semester, aku sangat tidak menyukai anak-anak yang mencontek, memberi contekan, membuka buku pelajaran, atau usaha lain yang bersifat curang. Jika mereka melakukan itu, maka aku akan memberikan nilai nol (0).

Setelah menyampaikan aturan tersebut, aku -sebagai guru- selalu menyampaikan nasihat-nasihat setiap kali aku masuk untuk mengajar mereka. Aku mengajak mereka berpikir tentang mana yang baik dan mana yang buruk, mengajak mereka untuk selalu mengingat Allah, dan menanamkan bahwa dalam belajar itu yang terpenting adalah “prosesnya”. Dalam menjelaskan matematika pun, kaitkan hal-hal yang berhubungan dengan kondisi real yang bisa diambil hikmahnya.

Dan yaa, teringat dengan kejadian kemarin, aku melaksanakan ulangan kepada murid-muridku yang belum mencapai nilai KKM. Ulangan ini kuadakan di luar jam pelajaran, saat mereka pulang sekolah. Setelah aku membagikan soal ulangan, aku minta izin kepada mereka untuk meninggalkan mereka karena saat itu juga aku harus mengurus sesuatu.

Mengapa aku sangat yakin tidak mengawasi mereka saat ulangan? Hm, aku yakin mereka tidak akan mencontek.

Dan yaaa,saat aku mengintip mereka dari luar tanpa sepengetahuan mereka, ternyata tak ada yang beringsut sedikit pun. Kutinggalkan lagi, lalu sebelum aku masuk ke kelas mereka, aku mencoba mengintip lagi dari jendela, dan yaa ternyata mereka tetap hening dan tetap fokus pada kertas ulangannya masing-masing. Masya Allah. Alhamdulillah.

Betapa bahagia menyaksikan ini. Bahagia sekali saat bisa merasakan perubahan-perubahan yang luar biasa dalam diri mereka. Mereka semakin manis, semakin percaya diri, semakin cerdas. Dan yaaa, semakin berani mengeluarkan argumennya hingga sering sekali berdiskusi padaku.

“Miss, menurutku begini dan begini. Miss menurutku begini dan begitu. Miss, bagaimana kalau begini saja. Miss, bukankah ini adalah ini, sehingga ini”.

Dan aku sangat mengapresiasi itu. Membahagiakan sekali🙂

 

Ok, terima kasih karena sudah membuat ibu selalu tersenyum setiap hari, sayang🙂

 

Markas Inspirasi, 14 November 2013

“Jadilah anak yag baik ya Nak, berjanjilah pada Ibu!”

Tertanda: Tria Gustiningsi

Tentang mutiarakeluarga

aku adalah orang biasa, tapi dengan semangat yang luar biasa tak pernah berhenti berjuang menggapai cinta Allah, dan berjuang mengukir senyum kebanggaan di wajah orangtua....
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s