He said, “Aku ga bisa, bu!”

Matematika. Ada apa dengan kata yang terdiri dari 10 huruf itu? Aku masih meneruskan penelusuran panjang mengenai matematika dan pembelajarannya. Aku masih terus berproses untuk menjadikan matematika itu menjadi pelajaran yang disenangi oleh murid. Setiap hari, aku mengubah cara, metode mengajar, media mengajar, dan semua yang berkaitan dengan mengajar. Setiap kelas memiliki yel-yel masing-masing. Dan yaaaa, kelas yang ku ampuh selalu rame. Rame oleh teriakan yel-yel, rame oleh rebut-rebutan spidol, rame oleh tunjuk tangan,, yaaa, selalu ramee..

Seperti hari itu, aku membentuk anak menjadi beberapa kelompok. Aku menerapkan metode jigsaw. Apa itu jigsaw? Nanti akan ku bahas pada tulisan selanjutnya.

Dan yaaaa, setelah membentuk kelompok dan mengerjakan tugas kelompok yang diberikan. Aku selalu membahasnya dan meminta murid untuk mengerjakan ke depan kelas lalu menjelaskan kepada teman-temannya mengenai jawaban yang dia tulis..

Saat sesi ini, banyak anak yang menunjuk tangan untuk mewakili timnya. Seperti biasa, aku melayangkan pandangan ke seluruh kelas. Yaaa, pandanganku akhirnya tertuju pada seorang anak yang tidak menunjuk tangan, menunduk, dan tidak ingin menatap mataku. Dia seperti menulis-nulis, tapi aku tahu bahwa tidak ada yang ditulisnya. Oke, sebagai seorang guru yang “gila belajar” psikologi, aku memahami psikologinya. Hipotesisku mengatakan bahwa dia tidak mau maju dan berharap tidak ditunjuk olehku untuk mengerjakan soal tersebut.

Tapi, apa yang kulakukan? Aku justru memilih dia untuk mengerjakan soal tersebut ke depan kelas. Ya, aku paham, aku mengujinya.

Di tengah hiruk pikuk teriakan murid yang lain “saya bu, saya bu, saya buuuu”, aku menyebut nama anak yang kutunjuk tadi.”Okeeee guys, ibu mau si ABCD (nama disamarkan) yang mengerjakannya ke depan.” *dengan senyum terbaikku pastinya🙂

Seketika itu, dia kaget. Dia menatapku dan bilang “aku ga bisa, bu”.

Aku tersenyum dan menatapnya lamat-lamat. “Ayo Nak, coba dulu, kamu pasti bisa, ibu yakin kamu bisa”.

Dia menatapku. “Bu, aku ga bisa”.

“Ayo sayang, ga apa-apa, coba dulu, maju dulu, lalu kita sama-sama belajar”, aku meyakinkannya.

“Bu, aku ga bisa”.. Kulihat kerut kening dan kepanikannya itu.

Dia teguh pada pendiriannya, beringsut dari tempat duduknya pun tidak, tapi aku pantang menyerah. “Ayo Nak.” *pasang senyum terlebar sejagad raya*

Dia beringsut dari kursinya, berjalan sangat pelan, mengambil spidol, lalu dengan sangat berhati-hati menulis angka demi angka di papan tulis hingga selesai. Aku mengamatinya lekat, jawaban yang dia tuliskan ternyata benar. Aku bertanya apa alasan dan bagaimana caranya mengerjakan soal tersebut. Dia menjelaskan padaku dengan suara yang sangat pelan, ragu-ragu.
Namun, dengan sangat antusias aku merespon baik penjelasannya itu.  Lalu, kutegaskan lagi jawabannya tersebut pada seluruh isi kelas. “Anak-anakku, Si ABCD hebat sekali, dia menjawab begini dan begini, dan ini adalah jawaban yang sangat luar biasa. Mari kita beri tepuk tangan untuk ABCD. “ Seisi kelas bertepuk riuh. Lalu kusematkan bintang apresiasi ke dadanya.

*Bintang ini sengaja kubuat sendiri untuk memberikan apresiasi kepada murid yang bisa menjawab pertanyaan yang kuajukan*

 

Dengan tepuk tangan dan pujian itu ternyata bisa membangkitkan motivasi dan kepercayaan diri seorang ABCD. Terbukti pada saat pembahasan soal selanjutnya, si ABCD tak pernah berhenti mengacungkan tangan. “Saya buu, saya buuu”.

Ah bahagia sekali rasanya..

Ternyata benar, semua guru seharusnya memahami psikologi semua anak didiknya. Semua guru seharusnya mengetahui bagaimana kondisi hati anak didiknya. Semua guru harus memberikan cinta sepenuhnya kepada anak didiknya. Sesuatu yang disampaikan dengan hati akan sampai ke hati. Jika seorang guru sudah dapat menyentuh hati seorang murid, insyaAllah pembelajaran pun akan menjadi sangat menyenangkan, berkah, dan mudah dipahami oleh murid.

 

Yeah, aku berhasil hari ini!

 

Markas Inspirasi, 2 Oktober 2013

“Ini tulisan 27 September lalu.”
Tertanda: Tria Gustiningsi

Tentang mutiarakeluarga

aku adalah orang biasa, tapi dengan semangat yang luar biasa tak pernah berhenti berjuang menggapai cinta Allah, dan berjuang mengukir senyum kebanggaan di wajah orangtua....
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

2 Balasan ke He said, “Aku ga bisa, bu!”

  1. tryayuokta berkata:

    like this buk guru🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s