“Kami sayang kamu, Nak”

Sampai huruf ini ditulis, air mataku masih sedang menetes. Terharu, sungguh. Kuat sekali tangisanku kali ini. Kata-kata yang keluar dari bibir beliau begitu menyentuh relung hati paling dalam. Ah, kalian berdua itu bagai orangtua kandung. Sungguh, tidak lebih dari 30 cm jarak pandang mataku terhadap mata kalian. Kupandangi lamat-lamat wajah kalian, tak ingin aku kehilangan satu detik pun dan sepatah kata pun pembicaraan kalian tentangku saat itu. Hingga akhirnya, engkau, seorang Professor yang sudah kuanggap bagai Bapak sendiri, memberikan nasehat panjang itu padaku. Selama engkau menasehatiku, aku hanya bisa menunduk Pak. Aku tidak ingin engkau tahu bahwa mataku berair sedangkan aku tidak sanggup menahan tumpahan airnya. Aku menangis. Aku terus memandangi jariku saja, menunduk, memegang kursi, menunduk, menangis. Dan semakin kuat tangisanku itu saat kucoba tegakkan kepala dan melihat matamu berlinang.

Malam ini mengharukan. Engkau pun membagi kisahmu padaku Pak. Salah satu kisah perjuangan saat engkau masih muda dulu. Engkau pernah seperti aku. Masih terngiang ditelingaku saat engkau bilang “kamu harus berani jadi layang-layang, hidup ini harus punya prinsip.”

Ah Pak, mengapa selalu saja ada pepatah yang engkau selipkan setiap kali berbicara padaku. “Tria, kami sayang sama kamu Nak. Ayo perjuangkanlah. Kamu harus berani jadi layang-layang.”

Ah, aku ingin berteriak rasanya. Berteriak sekencang-kencangnya. Semua nasehat panjang bla bla bla blaaaa yang engkau utarakan tadi begitu mewakili apa yang ingin aku ungkapkan selama ini Pak, aku merasakan persis seperti yang engkau katakan tadi Pak.

Allahu Akbar. Istikharahku mesti semakin kencang.  Allah, banyak sekali yang ingin aku ceritakan mengenai apa yang aku rasakan ini Ya Allah. Allah, rangkul aku, genggam hatiku Ya Rabb.

 

 

Markas Inspirasi, 22 Juni 2013

“Jika biduk telah dikayuh, jangan lagi lihat pantai”

Tertanda: Tria Gustiningsi

Tentang mutiarakeluarga

aku adalah orang biasa, tapi dengan semangat yang luar biasa tak pernah berhenti berjuang menggapai cinta Allah, dan berjuang mengukir senyum kebanggaan di wajah orangtua....
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s