Dalam diamku

Lebih dari 1 bulan aku tak menulisi wordpress ini.. Tak bermaksud untuk melupakannya, tidak juga untuk membiarkannya usang.. Hanya saja aku butuh waktu untuk sendiri, menyelami diriku sendiri, tidak disibukkan dengan connect internet, atau membuka prosedur new post… Aku sedang berada pada proses dewasa, aku bahagia karena Allah benar-benar menempaku dengan berbagai ujian untuk membentuk aku agar jadi seseorang.. Ya,, beberapa bulan ini aku sekuat tenaga menguatkan hati.

Negeri kincir angin.. Allahu Akbar, selangkah lagi..

Jujur, ini pertama kalinya dalam hidupku memutuskan “mundur” sebelum ujungnya tiba.. Ibu, ayah.. Aku yakin ridho Allah terletak pada ridho orangtua..

Sekuat tenaga aku memekakkan telinga dari anggapan-anggapan orang “mengapa begini, seharusnya begitu, sayang sekali, dan sebagainya”…. Aku bahkan membuat Professorku kecewa terhadap keputusan yang kupilih, maafkan aku Proff..

Baiklah, aku tidak terlalu peduli dengan anggapan orang.. Aku akan buktikan bahwa pilihanku tidak salah. Ini hasil istikharah berbulan-bulan, ini hasil perundingan dengan orang tua, ini jawaban ketenangan hati…

Orang-orang tidak akan pernah tahu mengenai apa yang kurasakan sekarang.. Aku bahagia. Sungguh..

Saat aku memohon pada Allah agar aku ditempatkan disuatu tempat yang terbaik menurut Allah untukku sehingga tempat itu bisa membuat aku semakin dekat kepada Allah, semakin bermanfaat bagi sesama, semakin berbakti pada orang tua. Lalu Allah menjawab permohonan itu.

Coba kalian jawab.. Relakah kalian meninggalkan suatu tempat yang di tempat itu kalian bertemu dengan orang-orang shaleh setiap harinya? Relakah kalian meninggalkan suatu tempat yang di tempat itu kalian berlomba-lomba dalam kebaikan?

Relakah kalian meninggalkan suatu tempat yang di tempat itu hatimu selalu bergemuruh saat sang penjaga masjid tidak pernah absen menyetorkan hafalannya kepada pimpinanmu? Dan semangatmu semakin tersulut saat tahu bahwa hafalan quran sang penjaga masjid sudah lebih dari 15 juz. Relakah kalian meninggalkan tempat itu?

Relakah kalian meninggalkan suatu tempat yang di tempat itu kapan saja kalian bisa menyetorkan hafalan quran kepada seorang ibu nan sholehah berwajah teduh?

Relakah kalian meninggalkan suatu tempat yang di tempat itu kalian dan semua orang di dalamnya belajar tahsin dan tahfidz quran dengan bersemangat untuk memperbaiki bacaan tilawahmu?

Relakah kalian meninggalkan suatu tempat yang di tempat itu selalu hadir kerinduan pada Allah dan Rasul? Selalu hadir kerinduan akan Ka’bah dan besar sekali harapan untuk bertamu ke sana?

Relakah kalian meninggalkan suatu tempat yang di tempat itu kalian bisa mendidik karakter anak Bangsa dengan islam?

Relakah kalian meninggalkan suatu tempat yang di tempat itu kalian bisa membuat orang tua bahagia? Relakah?

Ah banyak sekali rasa yang tak bisa kuungkap… Bahagia itu ada di sini. Ya, di hati..

 

Markas Inspirasi, 16 Mei 2013

“Semoga keputusan ini selalu diridhoi dan diberkahi Allah. Aamiin.”
Tertanda: Tria Gustiningsi

Tentang mutiarakeluarga

aku adalah orang biasa, tapi dengan semangat yang luar biasa tak pernah berhenti berjuang menggapai cinta Allah, dan berjuang mengukir senyum kebanggaan di wajah orangtua....
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Dalam diamku

  1. Windi berkata:

    Mungkin yg kita anggap lebih baik itulah yg terbaik.. hanya sebatas persepsi otak yg sangat terbatas.
    Apa-apa yang didapatkan, meskipun nampak begitu baik dan merupakan impian,
    tetap harus dimohonkan agar ridho-Nya selalu menyertai😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s