Titik tanpa Koma

Kemarin, pernah terbersit olehku mengapa ayah, ibu, dan kakak-kakakku begitu mantap dengan keputusan mereka, tanpa bergeming sedikit pun. Padahal, aku paham betul bahwa mereka benar-benar memahami dan mengikuti perjuanganku untuk menggapai impianku itu, tapi mengapa ketika impian itu hampir bisa aku gapai, beberapa langkah lagi, mereka dengan sangat hati-hati mengatakan “tidak”. Tapi, itu titik tanpa koma.

Ya, titik tanpa koma. Ini keputusan final.

Oh ternyata ini yang dirasakan ibu, ayah, kakak. Ternyata ini yang membuat tidur ibu tak nyenyak. Ternyata ini juga yang selalu dibawa ibu dalam tahajjud dan istikharahnya. Oh ternyata ini.

Ya, ridho Allah terletak pada ridho orang tua. Aku ingin ibu, ayah, dan kakak-kakakku tersenyum karena aku. Aku ingin menjadi anak berbakti. Toh bahagia itu ada disini, ya disini. Di hati. Aku bahagia saat bisa melihat wajah-wajah kalian yang selalu penuh rindu, penuh cinta, dan penuh kasih sayang itu. Aku bahagia saat melihat ibu tersenyum jika aku hadir dengan membawa semua kehebohan yang aku punya, cerita-cerita lucuku, tingkah-tingkah luguku, atau teriakan-teriakan saat kakak usil padaku. Aku bahagia saat ayah tersenyum melihat aku bercerita ini dan itu tentang hal-hal baru yang selalu aku temui di jalan, saat aku membawakan martabak har kesukaan ayah, saat aku tertawa dengan begitu bahagianya dan membuat rumah rusuh. Dan ini yang selalu jadi ciri khas ayah. Aku dan kakak-kakak paham betul tentang ini. Jika kami memakai benda baru, misalkan saja memakai sepatu baru saat ke sekolah. Ayah selalu bertanya saat kami pulang “Tadi ditanya teman ga Nak bahwa kamu memakai sepatu baru?”.

Hahaaaa.. Dan itu hingga kini. Selalu.

Tapi terbukti efektif untuk membuat kami bercerita ini dan itu, mengadu bahwa sepatu baruku diinjak teman karena kata mereka sepatunya ingin kenalan dengan sepatuku, dan bla bla bla… Lalu ayah tertawa. Ah menyenangkan sekali.

 

Ya, bahagia itu di hati.

Ok, titik tanpa koma. Aku semakin penasaran melihat akhir dari cerita ini. Allah pasti sedang mengatur skenario indah. Pasti mengejutkan ya🙂

 

Markas inspirasi, 24 Maret 2013

“Titik!”

Tertanda: Tria Gustiningsi

Tentang mutiarakeluarga

aku adalah orang biasa, tapi dengan semangat yang luar biasa tak pernah berhenti berjuang menggapai cinta Allah, dan berjuang mengukir senyum kebanggaan di wajah orangtua....
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Titik tanpa Koma

  1. Musim Semi berkata:

    kayaknya si uni sedang galau ini..galau ttg sebuah pilihan pentingkah?😆

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s