Menatap Mentari

Setelah magrib, sebelum isya. Ya, saat ini, ada mentari di sini. Malam malam begini? Iya, bahkan lebih terang ^_^

Hm, ibuku. Mentari yang tak henti-hentinya menyinari hati. Menghangatkan. Selalu.

Ba’da maghrib, setelah selesai berdoa, ibu beristirahat dan ternyata tertidur. Sepertinya ibu letih sekali hari ini. Ya, kupandangi wajah ibu lekat-lekat. Allah, terima kasih karena telah menakdirkan aku terlahir dari rahim ibuku ini, wanita lembut yang penyayang, yang kasihnya luar biasa besar, yang tidak pernah mengeluh, yang bibirnya selalu basah dengan dzikir dan do’a-do’a untuk kebaikan anak-anaknya. Allah, terima kasih karena telah menakdirkan aku menjadi anak ibuku, wanita yang kian hari kulihat wajahnya kian menua namun cantiknya terus terpancar, senyumnya hangat, tulus sekali. Allah, selalu berikan kesehatan pada ibuku Ya Allah. Tenangkan hatinya Ya Allah.

Memandang wajah ibu lamat-lamat, memandang wajah seorang wanita yang rela mengorbankan hidupnya demi hidupku, memandang wajah seorang wanita yang rela berjuang demi bahagiaku, memandang wajah seorang wanita dunia namun mulianya melebihi bidadari syurga. Allah, memandang wajah ibu dalam-dalam, aku tak kuasa menahan airmata. Jaga ibuku Ya Allah.

Bu, memandang wajah ibu, membuat aku semakin tak ingin pergi, membuat aku semakin ingin di sini saja, membuat aku semakin ingin bersama ibu. Bu, terima kasih untuk semua kasih sayang ibu, terima kasih untuk semuanya bu, semuanya. Maafkan aku karena belum bisa membalas jasa Ibu, walau aku tahu sampai kapanpun aku tak akan mungkin bisa. Tak akan sebanding. Bu, maafkan karena aku selalu merepotkan ibu, maafkan salah dan khilafku Bu. Kupersembahkan baktiku bu. Aku sayang ibu. Sungguh.

 

Markas Inspirasi, 3 Maret 2013

“Skenario Allah hari ini, hujan lebat sekali, dan Ibu memutuskan untuk menginap di kosanku malam ini. Ya, aku tak bisa pulang, ternyata Allah takdirkan ibu yang kesini. Terima kasih Allah. Allah keren banget ^_^”

Tertanda: Tria Gustiningsi

Tentang mutiarakeluarga

aku adalah orang biasa, tapi dengan semangat yang luar biasa tak pernah berhenti berjuang menggapai cinta Allah, dan berjuang mengukir senyum kebanggaan di wajah orangtua....
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s