Untuk anakku, Fadel Ferdinand

Aku mempunyai dua keponakan, Fadel Ferdinand Rizal dan Ilham Habiburrahman Rizal, mereka adalah anak dari kakak perempuanku. Fadel dan Ilham sudah kuanggap seperti anakku sendiri. Fadel, usianya sekarang 10 tahun, sedangkan Ilham 4 tahun. Kali ini aku ingin menulis tentang Fadel, keponakan pertamaku. Dia lebih akrab memanggilku “ujuk”. Ujuk adalah panggilan di daerahku sini untuk memanggil “tante/om” yang paling bungsu. Dia keponakanku, tapi bagi keluarga kami, tidak ada istilahnya “keponakan”, semuanya sama saja, bagaikan anak sendiri.

 

Fadel, aku benar-benar mengikuti pertumbuhan dan perkembangannya, sudah dekat sekali dia denganku, lama sekali dia bersamaku. Aku menggendong, mengajak bermain, menemaninya belajar, mengajarinya mengaji, mendengarkan ceritanya, merayunya saat dia menangis, ah semua tentang dia. Malam ini, aku sengaja membuka folder foto-fotonya di laptopku. Ah, ujuk kangen nak.  Melihat foto-fotomu dengan berbagai ekspresi lugumu, memandangi lamat-lamat senyummu itu, ujuk kangen Nak. Ujuk nangis. Menyadari perubahan wajahmu dari bayi sampai sekarang membuat ujuk senyum-senyum sendiri. Ganteng sekali kamu sayang.

Nak, ujuk rindu, maafkan ujuk jika selama ini ujuk banyak salah. Maafkan ujuk ya sayang. Maafkan ujuk jika ternyata tanpa sengaja ujuk pernah marah, maaf ya sayang, maaf Nak. Ujuk tidak akan pernah memaafkan diri ujuk jika ternyata ujuk pernah membuatmu sedih. Maaf sayang, ujuk tidak tahu.

Nak, kemarin ujuk ikut seminar PSPA, selama mengikuti seminar itu wajahmu selalu terbayang-bayang dipikiran ujuk Nak. Terbayang semua tingkah lugumu Nak, terbayang semua yang pernah engkau utarakan Nak, terbayang semua ekspresimu. Berkelebat juga dipikiran ujuk saat kamu menangis. Maafkan ujuk jika saat itu ujuk belum banyak mengerti Nak. Maaf. Ujuk menangis sesenggukan saat menghadirkan wajahmu di pikiran ujuk, ujuk menangis sejadi-jadinya saat menghadirkan senyummu sayang, rengekan manjamu, tangisanmu. Nak, ujuk rindu Nak. Terima kasih karena sudah hadir di hidup ujuk Nak. terima kasih. Maafkan ujuk karena ujuk banyak salah ya sayang, maafkan ujuk.

Ujuk bangga padamu Nak, ujuk bangga.

“Anak saya yang bernama Fadel Ferdinand

sungguh memiliki banyak kebaikan, saya bangga kepadanya, saya sangat menyayanginya,

karena anak saya:

1. Pantang menyerah

2. Sabar

3. Penurut

4. Sayang sama adeknya

5. Selalu menunggu saya pulang

6. Selalu merindukan saya

7. Jujur

8. Selalu ingin tahu

9. Murah hati

10. Selalu berbagi dengan teman-temannya

11. Memiliki rasa kasihan pada orang yang lemah atau tidak mampu

12. Jago main sepeda

 

Allahu akbar. Ujuk tidak kuat lagi melanjutkan tulisan ini sayang, lailahailallah, ujuk menangis sayang. Ujuk sayang kamu Nak. Maafkan ujuk sayang. Ingin sekali ujuk memelukmu saat ini Nak. Ingin sekali ujuk mengusap kepalamu, lalu memelukmu seerat-eratnya. Maafkan ujuk. Allah, sampaikan rinduku Ya Rabb.

Jadi anak yang sholeh ya Nak. Ujuk bangga padamu sayang. Kamu bisa Nak, kamu anak hebat sayang.

 

3 Bayangan

 

Markas Inspirasi, 22 Januari 2013

“Semoga Fadel, anakku, menjadi anak yang sholeh Ya Rabb, menjadi anak yang selalu bahagia dalam hidupnya. Aamiin”

Tertanda: Tria Gustiningsi

Tentang mutiarakeluarga

aku adalah orang biasa, tapi dengan semangat yang luar biasa tak pernah berhenti berjuang menggapai cinta Allah, dan berjuang mengukir senyum kebanggaan di wajah orangtua....
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s