Seminar PSPA, 19-20 Januari 2013

PSPA? Apa itu?  Hm, PSPA adalah singkatan dari Program Sekolah Pengasuhan Anak. Ya, saat mendapatkan informasi dari salah seorang sahabat mengenai seminar ini, aku tidak banyak berpikir lagi, langsung saja menghubungi sahabatku itu untuk mendaftarkan diriku. Ini ilmu. Yeah🙂

PSPA, diisi oleh seorang narasumber handal dari Bandung, Direktur Auladi Parenting School, yaitu Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari. Beliau dipanggil “Abah” oleh anak-anaknya, dan beliau senang sekali jika para pesertapun memanggilnya Abah. Iya, abah. Subhanallah, terasa akrab sekali.^_^

Pada seminar PSPA ini, abah memberikan pelatihan dan penyadaran kepada kami semua tentang anak. Memberitahu kekeliruan yang sering sekali dilakukan oleh para orangtua dalam mendidik anaknya, lalu memberikan solusi terbaik yang seharusnya dilakukan oleh orangtua dalam mendidik dan membimbing anak-anaknya.

Jujur, aku bingung harus memulai dari mana untuk menceritakan isi seminar ini. Sungguh komplit sekali ilmu yang ditransfer oleh Abah pada seminar PSPA ini. Dimulai dari pandangan orangtua terhadap anak. “Apakah anak itu anugerah atau beban?  Apakah anak itu memberi atau meminta?“, dan semua konsep serta paradigma lainnya tentang anak. Ada beberapa modul yang disampaikan Abah kepada kami dalam seminar ini,yaitu: 1. Karunia Fitrah, 2. Karunia Belajar, 3. Karunia Konsistensi, 4. Karunia Kiblat, 5. Karunia Mendengar, 6. Karunia Saffat.

Dan ini tidak bisa aku jelaskan satu persatu, semuanya langsung tertanam dalam memory, dan jika ingin tahu tentang ini, maka silahkan ikut seminar PSPA.😀

Hm, banyak sekali para orangtua yang sering memarahi anak-anaknya jika anak mereka rewel, menangis, meminta yang macam-macam, nakal, malas belajar, dan lain-lain. Ada beberapa perbuatan anak yang sering membuat orangtua kesal. Apa itu? Diantaranya adalah:

1. saat anak bertengkar dengan teman atau adiknya,

2. suka memukul, menggigit, dll

3. Tukang jajan

4. Rewel dan tukang ngamuk

5. Candu Tv, game, dll

6. Lelet di pagi hari

7. Malas sikat gigi, malas makan, dan lain-lain.

Masih banyak lagi sebab yang sering membuat orangtua kesal terhadap anaknya.

Tahukah kalian? Ternyata sebagian besar harga diri anak hancur dari rumah! Astaghfirullah. Banyak orangtua yang tidak sabaran, membentak anaknya, berkata ini dan itu, mencubit, bahkan memukul. Astaghfirullah. Hey, tega sekali dengan tubuh kecil itu! Demi Allah, aku tidak rela jika ada satupun anak di dunia ini yang diperlakukan begitu. Aku tidak rela!

Astaghfirullah, maaf jika aku jadi terbawa perasaan dalam menulis ini. Maaf.

Sungguh, semua anak tidak salah, mereka hanya tidak tahu bagaimana cara ungkapkan perasaan mereka.  Semua anak terlahir dengan suci. Iya, fitrah. Akan menjadi anak seperti apa dia, itu adalah bentukan orangtuanya sendiri. Cobalah untuk “bersama” anak, bukan “di dekat” anak. Sebagian besar orangtua ada yang hanya di dekat anak, menemani bermain, tapi ibunya sibuk dengan HP, TV, masakannya, cuciannnya, atau ayahnya sibuk dengan korannya, laptopnya, dan lain-lain. Cobalah untuk BERSAMA anak. Benar-benar antara kita dan anak. Tatap matanya, temani dia makan, bermain sepeda dengannya, atau bermain kelereng, bermain bola, dan lain-lain. Libatkan diri kita dan anak.

Karena anak dalah FITRAH.

Jangan pernah sekali-kali membentak anak. Karena sekali saja kita membentak anak, maka akan putus beribu-ribu saraf di otak anak kita. Dan saraf yang terputus itu tidak akan pernah tersambung lagi sampai ia dewasa, bahkan sampai mati.

Biarkan anak kita belajar dengan dunianya. Belajar itu bukan hanya pada saat dia mengerjakan PR-nya, bukan. Bagi anak kita, semua hal adalah belajar. Permainan karet, masak-masakan, boneka, kelereng, mungkin bagi orang dewasa itu hanyalah permainan, tapi bagi anak semuanya adalah serius. Jangan pernah mematikan potensi mereka, jangan pernah rebut kebahagiaan mereka hanya dengan cara memaksa dia terus belajar buku pelajaran saja. Dan, semua orang tua harus paham mengenai definisi cerdas itu. Cerdas bukan hanya saat anak kita hafal nama-nama dinosaurus, hafal nama menteri, bisa mengerjakan soal matematika. Bukan. Bukan itu saja. Cerdas itu luas. Saat anak kita mampu mengungkapkan perasaannya, itu juga namanya cerdas. Saat anak kita bermain bola kotor-kotoran di lapangan, itu juga namanya cerdas. Saat anak kita berbicara minta makan saat dia lapar, itu juga cerdas. Saat anak kita mencoret dinding rumah kita, itu juga cerdas. Saat anak kita bernyanyi dan bergaya di depan kaca, itu juga cerdas. Saat anak kita mampu berbicara banyak. Ya, bicara. Itu namanya cerdas.

Biasakanlah untuk mengajak anak kita untuk berbicara, bahkan sejak bayi. Ajak dia bicara. Semakin anak banyak bicara, maka ia semakin cerdas. Biasakanlah untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepadanya. Lebih banyaklah untuk mendengar. Hargai anak kita, hargai idenya, hargai pendapatnya, anak kita sedang belajar.🙂

Jangan pernah sudutkan dia, jangan pernah “mengomel” sehingga menekan perasaannya. “Kenapa sih kamu ini tidak mau belajar, masa’ yang ini saja tidak bisa. Coba lihat adik kamu.”, atau omelan lainnya. Itu akan menghancurkan harga dirinya. Fokus saja pada kebaikannya, pujilah dia jika dia berbuat kebaikan karena itu akan selalu dia ingat sampai dia dewasa nanti, itu akan membentuk pribadinya, itu akan men-sugesti pikirannya. “Kamu itu anak baik ya Nak, suka jagain adek, sayang banget dengan adeknya”. Dan ini akan masuk ke dalam alam bawah sadarnya bahwa “Oh, aku ini adalah kakak yang sayang dengan adeknya”.  Dan lihatlah apa yang akan terjadi pada anak ini, dia akan menjadi kakak yang memuliakan adiknya, menjaga adiknya, penyayang. Karena apa? Karena pujian tadi yang mungkin kita anggap itu tidaklah seberapa, tapi itu sangat berharga bagi anak. “Kamu itu pantang menyerah ya Nak“. Dan yakinlah dia akan tumbuh menjadi anak yang pantang menyerah. Ketika dia tidak bersemangat, dia akan ingat lagi perkataan yang pernah diucapkan orangtuanya bahwa dia adalah anak yang pantang menyerah, sehingga dia akan bangkit lagi. Pujilah kebaikan yang benar-benar dia lakukan, jangan berbohong padanya.

Jangan pernah membandingkan anak kita dengan saudaranya, apalagi dengan orang lain. Jangan pernah. Itu akan merendahkan dirinya. Muliakan anak-anak kita.

Jadilah orangtua yang lebih banyak mendengarkan. Jadilah teman curhat anak. Jangan langsung melarang ini dan itu.

Jadilah orangtua yang memberikan kebebasan kepada anak sepanjang itu tidak melanggar hukum, membahayakan dirinya, dan merugikan orang lain. Anak itu selalu penasaran. Apalagi anak kecil. Ada “Hukum Kekekalan Penasaran” yang berlaku dalam dunia anak kita. Apa bunyi hukum kekekalan penasaran itu:

“Apapun yang menarik hati, maka itu wajib disentuh!”

Apa itu contohnya? Jika anak bertemu dengan pisau, maka dia akan pegang pisau itu. Bertemu kabel listrik, maka dia akan mencoba untuk menyentuh, menarik-nariknya, dan lain-lain. Lalu bagaimana sikap kita? Jawabannya adalah dampingi anak. Saat dia penasaran dengan pisau, coba bimbing tangannya untuk membela roti misalnya. Setelah dia tahu bahwa pisau itu ternyata bisa membela roti, maka terjawablah rasa penasarannya. So, jangan langsung ambil pisaunya, jangan langsung larang. Toh dia sedang belajar. Itu makanya kita harus mendampingi dan BERSAMA anak, jangan ajak bertiga dengan kompor atau cucian. ^_^

Oke, masih banyaaaaaaaaaaaaak sekali yang disampaikan Abah kepada kami dalam seminar ini. Semuanya tidak bisa dirangkum jadi satu. Semuanya kompleks. Per-judul, per-permasalahan, per-solusi. Kami juga mendapatkan 8 PR dari Abah. Yeah, terima kasih abah🙂

 

 

Markas Inspirasi, 21 Januari 2013

“Ini hanya sharing dari beberapa yang disampaikan Abah kemarin. Aku hanya sedang belajar dan terus belajar.”

Tertanda: Tria Gustiningsi

Tentang mutiarakeluarga

aku adalah orang biasa, tapi dengan semangat yang luar biasa tak pernah berhenti berjuang menggapai cinta Allah, dan berjuang mengukir senyum kebanggaan di wajah orangtua....
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s