Surat Iya

Setelah menunda waktu satu hari karena ada suatu hal yang masih harus diurus, akhirnya tanggal 23 Desember barulah aku bisa pulang. Ya, rinduku tersampaikan. Hm, hari yang sangat membahagiakan adalah hari disaat kita bisa berkumpul dengan keluarga. Sungguh.

Ya, di hari itu, ada sebuah bingkisan kecil untuk ibu. Isinya tak seberapa, tapi ternyata bingkisan ini membuat ibu meneteskan airmatanya. “Terima kasih sayang”, ujarnya sambil mengelus-elus kepalaku.

Alhamdulillah, indah sekali Ya Rabb. ^_^

 

231220122577

 

Dan ada selembar kertas di dalamnya yang berisi suratku pada Ibu..

 

Teruntuk ibu paling hebat di dunia,

SELAMAT HARI IBU

Semoga ibu selalu diberikan kesehatan oleh Allah, semoga Allah selalu menganugerahkan kebahagiaan dan ketenangan hati padamu, bu. Semoga Allah selalu menuntun dan meridhoi setiap langkah ibu. Semoga ibu tetap menjadi ibuku di syurga nanti. Semoga ibu mendapatkan suatu hal yang berarti dari seorang anak seperti diriku ini. Aamiin.

Bu, aku tahu kado yang kuberikan ini tidaklah seberapa dibandingkan jasa ibu yang selama ini membesarkanku dengan penuh kesabaran. Bu, aku hanya ingin ibu tahu bahwa rasa sayangku bukan pada hari ini saja, aku menyayangi ibu lebih dari yang ibu tahu. Aku merindukanmu setiap detik bu, setiap helaan nafasku. Saat aku jauh darimu, sungguh ingin sekali rasanya aku berlari sekencang-kencangnya lalu bertemu dan memelukmu seerat-eratnya. Iya, ibu pasti tahu bagaimana aku ini. Aku selalu saja merindukanmu, selalu saja ingin berada disampingmu, selalu ingin makan masakanmu.

Maafkan aku karena selalu menyusahkanmu, bu. Maaf.

Bagiku hari ibu itu bukan 22 Desember saja, bagiku hari ibu itu setiap hari. Ya, dan aku selalu mendoakanmu dalam setiap sholatku. Terima kasih atas semua cinta yang selalu ibu alirkan.

Dari anakmu yang selalu merepotkan

Tertanda: Iya

Aku lihat ibu menangis. Ibu terharu. Ya Allah, padahal belum seberapa yang kuberikan ini, tapi begitu dahsyatnya penerimaan ibu. Kulihat bibirnya bergerak mendoakanku. Allahu akbar. Benar-benar kasih ibu sepanjang masa, walau terkadang kasih anak hanyalah sepanjang gala. Ibu, pinjamkan aku hatimu bu. Allahu akbar.

Allah, terima kasih karena aku terlahir dari seorang ibu berhati malaikat. Lembut, bibirnya selalu basah dengan zikir, wajahnya teduh menenangkan. Dia pengasih. Allah, terima kasih. Aku tidak tahu dengan cara apa aku bisa membalas jasa ibu. Baktiku saja tak akan cukup. Pun jika bumi dan isinya ini kupersembahkan untuk ibu, itu juga tidak akan cukup menandingi kasih sayang yang ia berikan. Allah,, makhluk ciptaanMu saja sebegitu penyayangnya, apalagi Engkau Ya Rabb. Allah Ya Rahman Ya Rahim. Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Hidup dan mati kami hanya untukMu Ya Allah. Lindungilah kami. Aamiin Allahumma Aamiin.

Markas Inspirasi, 25 Desember 2012

“Ibuku adalah ibu yang sungguh menginspirasi. Dia, ibu hebat yang kumiliki”

Tertanda: Tria Gustiningsi

Tentang mutiarakeluarga

aku adalah orang biasa, tapi dengan semangat yang luar biasa tak pernah berhenti berjuang menggapai cinta Allah, dan berjuang mengukir senyum kebanggaan di wajah orangtua....
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s