5 menit

Bunda, mama mana?“, gadis kecil berusia 5 tahun itu bertanya padaku, ku lihat matanya berair, ah tapi ia tetap manis.

Hm, mama ada di luar,  sabar sayang, 5 menit lagi kita selesai kok sayang, nanti baru kita panggil mama ya”, aku mencoba menenangkan, kutatap wajahnya lamat-lamat. Lucu sekali adik kecil ini.

5 menit lagi Bunda?

Iya“, jawabku meyakinkannya.

Sekarang jam berapa bunda?

Jam 10.25 sayang

Oh jam sepuluh ya Bunda? Oke, sebelas, duabelas, satu, dua, tiga”, dia menghitung 5 jarinya. “Berarti kita pulang jam tiga ya Bunda?

Aku tersenyum. Subhanallah, anak ini, menggemaskan. “Bukan sayang, kalau itu 5 jam, tapi tadi Bunda bilang 5 menit lagi”.

5 menit lagi itu ada lagunya loooh sayang, Fira tahu ga lagunya?“, jawabku bersemangat. haha

“Ga bunda”, dia menggeleng. Sepertinya benar-benar tidak tahu. Hoalah, aku lupa, lagu 5 menit lagi itu kan dulu ada di zamanku. -_-”

5 menit itu kayak gimana Bunda?”, dia bertanya lagi, ekspresi wajahnya penasaran.
5 menit itu kayak gini ya sayang. Jam itu kan 10.25 kan ya, nah 5 menit lagi itu artinya kalau angka pada jam itu sudah berubah jadi 10.30 sayang. Hm, lamanya itu sama aja dengan waktu Fira ngerjain 3 soal matematika dari Bunda.

Oh, gitu Bunda. Berarti 5 menit itu sebentar ya Bund

Iya donk sayang ^_^”
Oh iya Bunda, di rumah Fira ada kucing loohh Bund

Waah hebaat, siapa nama kucingnya sayang?

Nama panggilannya itu Pusi, nama panjangnya itu Bunda mau tahu juga ga?

Iya, bunda mau tahu donk, siapa nama panjang si Pusi?“, aku sok penasaran.

Nama panjangnya itu PELANGI bun”

Tuing.. Aku menahan tawa.

Wah baguuuuss sekali namanya sayang, iya ya panjang ya namanya.. Jadi namanya itu PUSI PELANGI ya?”

Bukan bunda, nama panjangnya PELANGI, nama panggilannya PUSI, gitu Bun”

Hahaaa… Masya Allah, kali ini aku tak kuat menahan tawa, apa hubungannya antara PUSI dan PELANGI? Hahaa.. Anak kecil selalu ada-ada saja. Ah kamu menggemaskan Nak.

Anak kecil selalu special. Semua yang mereka lakukan, katakan, pikirkan, terjadi secara alami, jujur, tidak dibuat-buat. Anak kecil bagaikan kertas putih. Menjadi kertas seperti apa dia nanti? Itu tergantung orangtuanya. Apakah dia akan menjadi kertas yang memiliki banyak manfaatnya karena ada tulisan-tulisan hikmah dan do’a, ataukah dia akan menjadi kertas yang tidak berguna karena dipenuhi dengan coretan-coretan dan tumpahan tinta yang membuatnya kotor? Hm, kata ibuku, menjadi wanita harus cerdas, agar anaknya nanti cerdas. Karena wanita adalah guru. Okesip.🙂

 

Markas Inspirasi, 26 November 2012

“5 menit itu begitu bermakna untuk menjawab pertanyaan dan celotehan lugunya itu. Mengesankan.”

Tertanda: Tria Gustiningsi

Tentang mutiarakeluarga

aku adalah orang biasa, tapi dengan semangat yang luar biasa tak pernah berhenti berjuang menggapai cinta Allah, dan berjuang mengukir senyum kebanggaan di wajah orangtua....
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s