Pelan Sekali

Aku menatapnya, lambat. Hm, aku terdiam sejenak, mencoba memahami tatapan matanya itu. Lemah. Sayu. Gemuruh AC bagaikan lantunan musik rock yang menanti kata dari kami. Aku melihatnya lagi. Ku hela nafasku, beristighfar. Astaghfirullah. Aku tertunduk, ingin menangis. Lalu sekuat tenaga ku tegakkan lagi kepalaku, memberanikan diri menatapnya. Semakin dalam. Semakin menuntunku untuk bersyukur kepada Allah atas semua nikmat berharga yang Allah anugerahkan. Allah. Ternyata kondisi seperti ini ada di sini, dan aku ternyata menjadi gurunya. Nyata, dia di depanku.

Aku, pelan sekali bicaraku kali ini. Ku pandang lagi dia. Iya, hanya ada aku dan dia di ruangan dingin ini. Anggukannya pelan. Allahu akbar. Kamu kedinginan? Tanyaku. Dia menggeleng. Pelan. Sangat pelan. Aku menatapnya lagi. Allahu akbar. Terima kasih telah mempertemukan aku dengan dia, aku lebih banyak belajar ilmu kehidupan.
Di matanya ada bintang. Aku berharap dia bisa tersenyum setelah bertemu aku. Aku yakin, dia bisa sembuh.

 

Markas Inspirasi, 4 November 2012

“Hikmah itu berserakan ada dimana-mana. Allah, terima kasih.”

Tertanda: Tria Gustiningsi

Tentang mutiarakeluarga

aku adalah orang biasa, tapi dengan semangat yang luar biasa tak pernah berhenti berjuang menggapai cinta Allah, dan berjuang mengukir senyum kebanggaan di wajah orangtua....
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s