Lagi

Tadi malam, saat kulihat HP ternyata ada sebuah sms, ku buka, dan ternyata sms dari seorang sahabat di sana. Hm, rindu.

“Cut, sudah beli lauk? Makan di sini be, aku masak”

Dia, seorang sahabat yang sejak 4 tahun lalu bersamaku. Kosannya tepat di depan kosanku, dulu. Iya, dulu, saat kami masih menjadi mahasiswa S1. Hm, “Cut” adalah panggilan sayang para sahabat kelas kepadaku, termasuk dia. Entahlah, padahal aku bukan orang Aceh ya, tapi kok dipanggil “Cut”? Haha (sok ga tahu). Ops, jika para sahabatku itu baca statement ini, aku pasti dilempari pake kulit pisang, eits, pake donat aja. Hops, tangkap.

Terang saja sms ini mengembalikan memoryku pada beberapa saat dulu, kebiasaan saat masih jadi mahasiswa, anak kos senasib sepenanggungan. Hoho.

Ah, selalu ada saja idenya untuk membuatku menangis merindukan semuanya. Sms seperti itu, dulu sering sekali. Jika tidak dia, aku yang mengirim sms seperti itu. Iya, saat aku masak. Dan ini adalah moment yang ditunggu-tunggu olehnya. Aku bahagia jika masakanku dihabiskan oleh orang lain. Walaupun entah, dia menghabiskan itu karena masakanku enak atau karena dia lapar dan terpaksa karena tidak ada makanan. Haa. Hm, tapi aku yakin seyakin-yakinnya, sebabnya adalah yang pertama. Karena masakanku enak. #SenyumSinis *Angkat kerah baju*

Hm, smsnya, yang tadi malam itu. Ku balas:

“Belum, kantin bik mun sudah tutup. Air galon kami jg abis, Pak Pai dak ado.”

Bik mun adalah nama ibu kantin di komplek kosan kami, sedangkan Pak Pai adalah nama seorang Bapak mulitalent yang selalu kami repotkan. Pak Pai ini petugas keamanan, petugas yang mengurus masalah air juga, seorang yang bertugas mengisi air galon dan mengantarkan ke kosan kami juga, seorang yang membuka pintu pagar kosan tiap pagi, dan menutupnya tiap malam, seorang yang selalu kami cari jika kami memerlukan bantuan. Terima kasih banyak ya Pak, mohon maaf karena kami selalu merepotkan.

Hm, sahabat. Engkau yang di sana. Aku merindukanmu. Walaupun sekarang tempat tinggal kita tidak berdekatan lagi, aku masih merasa rumahmu itu di depan rumahku. Aku masih merasa saat ku buka pintu rumahku, maka aku akan melihat jendela kamarmu. Lalu, aku berteriak. “Mooooon, aku kesitu yaaaa”.

Hm, rindu. Tahukah engkau, dulu saat engkau meninggalkanku lebih dulu, di bulan Juni itu. Saat kosanmu itu tak ada penghuninya lagi, aku selalu menatap jendela kamarmu, berharap ada engkau di sana. Ah, kok jadi serem gini. Horror ih. -_-”

Mon, baik-baik di sana ya. Saat mendengar kabarmu via sms beberapa hari yang lalu, aku bisa pastikan engkau disana menjadi seorang yang bermanfaat sekali bagi keluargamu, masyarakat, siswa, dan banyak orang lainnya. Engkau ingat percakapan kita di kamarmu waktu itu? Kita ingin menjadi seseorang. Menebar banyak manfaat dimana-mana. Aku ingin begini, dan engkau ingin begitu. Ingat kan? Hm, aku merindukanmu.

 

Markas Inspirasi, 4 November 2012

“Mon, besok kita ujian Kalkulus ga?”

Tertanda: Tria Gustiningsi

Tentang mutiarakeluarga

aku adalah orang biasa, tapi dengan semangat yang luar biasa tak pernah berhenti berjuang menggapai cinta Allah, dan berjuang mengukir senyum kebanggaan di wajah orangtua....
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

6 Balasan ke Lagi

  1. ncepp berkata:

    mak jimon, emang ngangenin y mbak..
    hiks hiks, *mewek T_T

  2. pujicaremu berkata:

    ehmm…ehmm..
    begitukah???
    subhanallah,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s