Riyadhoh.. Yessss!

Yuhuuu, betapa menyenangkan sekali saat kolom-kolom itu dapat dicentang dengan sempurna. Tak lupa pula dengan kolom ini. Riyadhoh. Haa.. Mungkin tak ada yang menyangka bahwa saya sekarang menjadi seorang pejalan kaki handal. hohooo.. #SenyumKebanggaan

Hmm, sebenarnya ini biasa aja sih, tapi entah saya merasa ini pencapaian luar biasa. Ya, mungkin karena selama ini saya terlalu cenderung tidak ingin menyia-nyiakan jasa angkutan umum *AlasanGueAjaIni

Dari tempat saya tinggal, ke tempat saya tuju, sebenarnya dapat ditempuh dengan 1 kali naik angkot. Tapi, tanggung. Karena jaraknya lumayan dekat *VersiTemanSaya*, kalau versi saya, ini jauh. Lalu, saya mencoba untuk mengikuti saran teman saya itu dengan berjalan kaki ke lokasi yang ingin saya tuju. Hari pertama, saya berjalan kaki saat pergi saja, saat pulangnya saya tidak ingin menyia-nyiakan jasa angkutan umum lagi. Saya naik angkot. Hari kedua, saat perginya naik angkot, saat pulang jalan kaki. Hari ketiga, naik angkot pulang pergi. Hari keempat jalan kaki pulang pergi, hari kelima, keenam, dan berproses seperti itu setiap harinya. Sehingga saya sadar bahwa ternyata berjalan kaki adalah hal yang sungguh membahagiakan. Saya bisa mengamati keadaan disepanjang perjalanan saya dengan detail. Pun berjalan kaki ternyata salah satu solusi efektif untuk menenangkan diri. Iya, enjoy sekali. Dan jadilah saya menjadi seorang pejalan kaki.

Saya selalu berniat untuk menghitung jumlah langkah selama perjalanan yang saya tempuh ini, namun selalu saja terlupa. Hingga pada suatu hari terwujudlah cita-cita saya ini *SujudSyukur*.😀

Ya, ketika memulai dengan hitungan 1 pada langkah pertama, saya menjaga konsentrasi agar hitungan saya tak keliru. Yap, bismillah. Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan, sepuluh. Setiap hitungan ke seratus, saya melipat jari saya. Tuing. Seratus lagi, saya lipat lagi. Jika ada dua jari yang terlipat, itu artinya sudah dua ratus langkah. Begitu seterusnya. Untuk menjaga kekhusyukan dengan sesama pengguna jalan, saya menghitung dalam hati. Dan itu artinya selama perjalanan, saya diam saja. Luar biasa. Ya iyalah, wong saya berjalan kakinya sendirian. -_-”
Selama perjalanan, saya merasa dilihat oleh orang-orang yang saya lewati. Perasaan saya saja ini. Hingga akhirnya saya bertemu dengan seorang adik kecil yang kira-kira berumur 5 tahun, dia baru pulang dari warung, ditangannya ada permen. Lalu, dia memandang saya dengan seksama. Dia melihat tangan saya. Pada saat itu jari saya sedang terlipat tujuh. Hahaa.. Dia mengikuti saya. Saya senyum-senyum. Huah, gemas sekali dengan adik ini. Lucu sekali dia, putih, imut banget banget banget. Anak siapa ini. Tapi tapi tapi, saya tidak boleh tergoda dengan anak kecil ini, saya harus menjaga konsentrasi saya agar tak keliru menghitung langkah. Tapi tapi tapi, saya merasa dicurigai oleh adik kecil ini.

Tapi okelah, tak perduli. Toh dia ga bakalan koprol sambil bilang WOW juga kok.

Hm, akhirnya sampailah saya pada tempat saya tinggal. Dan ternyata saya sudah berjalan sebanyak 1750 (Seribu tujuh ratus lima puluh) langkah. Itu hitungan saat pulang saja. Saat pergi, saya menempuh jalan yang sama dengan kecepatan dan langkah yang sama. Itu artinya dalam 1 hari saya berjalan kaki sebanyak 3500 langkah. WOW! Salah satu merk susu yang ada di iklan tv itu sepertinya harus bayar saya deh karena saya menyukseskan program”Gerakan Seribu langkah dalam Sehari”. Saya lebiiiiiihhh..

Jika 2 langkah saya = 1 meter, maka 3500 langkah = 1750 meter.

1750 meter = 1,75 Kilometer
Berarti dalam sehari, setidaknya saya berjalan sejauh 1,75 kilometer. Ini belum menghitung berjalan kaki ke tempat yang lain.

Saya WOW sekali, tapi ternyata bagi teman saya, ini biasa saja. *tega*. Dia bahkan pernah berjalan kaki lebih jauh dari itu. Subhanallah. Tapi, whateverlah, saya bahagia pokoknya. hihi😀

Alhamdulillah.. Berjalan kaki itu sehat banget pemirsa. Ya ya ya, riyadhoh, yeeessss!

^_^

Markas Inspirasi, 15 Oktober 2012

“Muslim itu harus kuat. Yok jalan kaki! haa :D”

Tertanda: Tria Gustiningsi

Tentang mutiarakeluarga

aku adalah orang biasa, tapi dengan semangat yang luar biasa tak pernah berhenti berjuang menggapai cinta Allah, dan berjuang mengukir senyum kebanggaan di wajah orangtua....
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s