ce-lo-teh-ce-lo-teh-ce

Rinduku tersampaikan juga. Huh, lega. Bertemu wajah teduh Ibu, memandang wajah sumringah ayah, memeluk tubuh mungil keponakanku. Terang saja kuhabiskan waktuku malam ini bersama mereka, rindu sekali aku. Sudah lama tak mendengar celotehan keponakanku. Dia manja sekali padaku. Dan malam ini, aku mengkhususkan waktuku untuk mendengar cerita dan bertanya mengenai aktivitasnya. Bagaimana kursus bahasa inggrisnya Nak? Menyenangkan? Bagaimana ngajinya Nak? Sudah iqra’ berapa? bagaimana hafalannya Nak? Bagaimana sekolahnya Nak? Kabar si Alan dan Bayu bagaimana? Ah, sungguh aku menyayanginya. Dia adalah anak pertama dari kakak perempuanku. Dia juga cucu pertama di keluarga kami. Dia manja sekali padaku, tapi sering sekali jadi saingan terberatku. Dia selalu saja menarik perhatian ibu. Huh. Kalau aku sedang duduk di dekat ibu, bermanja pada ibu, dia selalu menarik-narik ibuku lalu meminta ini dan itu, mencari alasan agar aku tak bisa duduk di dekat ibu. Huh, dasar. Awas kamu yaaa…

Tapi, sungguh aku menyayanginya. Malam ini, ternyata banyak sekali keluhan yang ia sampaikan padaku. Ternyata beberapa hari ini dia tidak mengaji di masjid karena ustadzahnya lupa bahwa seharusnya dia sudah iqra’ 4, tapi diminta ustadzah ngaji di iqra’ 3. “aku kan sudah iqra’ 4, tapi kenapa jadi turun iqra’3 lagi? Aku kan bisa, aku kan sudah lancar ngaji iqra’ 3. Ustadzah salah, aku jadi malas ngaji sama ustadzah”, keluhnya.

Keluhan itu baik-baik ku dengarkan. Lamat-lamat ku tatap wajahnya yang cemberut kesal. Aku tersenyum memandang wajah lugunya itu. Sungguh, aku sayang sekali padanya. Dia sebal. Aku tersenyum lagi. Lalu aku berpikir, mungkin seperti inilah ekspresiku setiap aku mengeluh tentang aktivitasku dan bercerita pada Ibu. Ternyata lucu. Hahaaa

Hm, setelah panjang lebar ia bercerita. Sekuat tenaga aku mencoba untuk membesarkan hatinya. “Oh, mungkin ustadzahnya lupa sayang. Fadel ga bawa kartu ngaji kan nak? Jadi mungkin ustadzah juga lupa fadel sudah sampai iqra’ berapa. Besok bilang aja sama ustadzah bahwa Fadel sebenarnya sudah Iqra’ 4. Kartu ngajinya ditunjukkin sama ustadzah, supaya ustadzahnya yakin.”

Dia masih cemberut, namun raut kesal sudah sedikit memudar. Lalu mengeluh lagi, “kalau misalnya masih saja disuruh ngaji iqra’3 bagaimana? Aku ga mau ngaji lagi!”

Dia mengancam. Wew. Selama ini dia belajar mengaji denganku, namun karena aku jarang pulang ke rumah, dia jadi dimasukkan di TPA masjid dekat rumah, sekaligus untuk melatih jiwa sosialnya. Hm, aku belum tahu jelas apa alasan ustadzahnya memintanya untuk mengulang ngaji di iqra’ 3, aku berpikiran mungkin ada beberapa bagian yang Fadel memang belum lancar mengaji sehingga ustadzah ingin agar ia benar-benar bisa. Aku yakin seperti itu. Tidak mungkin seorang guru mengambil keputusan kepada anak didiknya tanpa suatu pertimbangan yang jelas. Kuminta dia membaca iqra’ itu di depanku, ia tidak mau. Ia cemberut lagi. Haha

Lalu, aku berusaha lagi menguatkan hati keponakanku ini. “Hm,, kalau misalnya udah dibilang ke ustadzah dan ustadzah masih minta ngaji iqra’ 3, sebenarnya ga apa-apa juga loh Nak kalau ngaji iqra’3 lagi, kan Fadel jadi tambah lancar donk ngajinya, tambah mahir donk Nak. Kalau mahir di iqra’ 3 kan nanti bisa dengan mudah juga ngaji di iqra’ 4. Bisa cepat selesai tuh. Bisa cepat juga untuk ngaji Alqur’an, ga iqra’ lagi. Iya kan?”

Dia terdiam. Nampaknya dia sedang mencoba mencerna nasehatku, lalu melumatnya. Dia tidak melanjutkan keluhannya. Lalu, dia pergi ke dapur dan mengambil minum. *criing, aku menemukan teori baru bahwa ternyata cemberut bisa menyebabkan haus*. Aku masih mengamatinya. Dia masuk kamar. Entah, mungkin tidur, atau mungkin saja dia hendak bersemedi. Hihiii😀

Huh, aku tersenyum lega. Semoga dia mau mendengar nasehatku. Sungguh, aku sayang sekali padanya. Dia sering jadi bahan eksperimenku. *maafkan amma ya Nak*. Aku selalu saja menyuguhi dia buku-buku dengan tujuan agar dia hobi membaca. Buku-buku yang kuberikan padanya pun benar-benar ku pilah untuk mendidik karakternya. Dan berhasil, kini dia suka membaca buku. Tambah giat saja aku membelikannya buku. Bertahap. Aku lalu menghadiahinya buku cerita yang didalam buku tersebut ada space untuk menulis agar dia menuliskan kisahnya. Dan berhasil untuk beberapa lembar saja, hari selanjutnya dia malas menulis. Tak apalah. Berproses. Dan jika kuamati, dia lebih nyaman menceritakan dalam lisan daripada menulis. Tak apalah, melatih kemampuannya untuk berkomunikasi.

Hmm, ku alihkan lagi pandanganku pada Ibu. Lalu mengambil posisi duduk tepat disamping Ibu, menceritakan banyak hal. Kini giliranku yang memasang ekspresi wajah macam-macam. Ah, Ibu pasti menahan ketawa melihatku. Bu, aku mencintaimu karena Allah. Peluk sayang untuk Ibu. ^_^

 

 

Markas Inspirasi, 9 September 2012

“Rumahku, syurgaku”

Tertanda: Tria Gustiningsi

Tentang mutiarakeluarga

aku adalah orang biasa, tapi dengan semangat yang luar biasa tak pernah berhenti berjuang menggapai cinta Allah, dan berjuang mengukir senyum kebanggaan di wajah orangtua....
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s