Saat Si Bungsu Berulah Lagi

Ayah, Ibu, terima kasih karena sudah memahami maksudku. terima kasih atas semua doa yang kalian panjatkan dalam sujud panjang. Terima kasih atas semua dukungan dan motivasi dari kalian. Terima kasih untuk cinta yang selalu kalian alirkan.

Ayah, Ibu, si bungsu kalian ini sudah dewasa. Mungkin ayah dan ibu kaget mendengar rencana yang kuutarakan tadi malam. Huh, macam-macam saja ulahku.  Tapi, yakinlah aku akan komitmen ayah, ibu. Kalian telah mengenalku sungguh sejak aku masih di rahim Ibu hingga sekarang aku sudah 22 tahu kan ayah, ibu? Kalian sudah paham betul ulahku, dan kalian selalu saksikan bahwa aku selalu membuktikannya dengan totalitas dan kebanggaan kan? Pun untuk yang satu ini, aku berjanji pada diriku, azzamku sudah benar-benar kuat ayah, ibu. Aku akan buktikan. Aku tahu, ini ulahku yang kesekian yang selalu memerlukan rembukan panjang antara ayah, ibu, dan kakak-kakak.

Ayah, Ibu, aku bahagia setelah penjelasan panjang tadi malam, akhirnya Ibu mengizinkanku. Kudengar suara ayah dan kakak dari balik telepon itu. Hm, mungkin telpon di loudspeaker ya Bu? Kalian bilang bahwa kalian selalu mendoakanku. Ayah, Ibu, aku yakin betul bahwa ridho Allah itu terletak pada ridho orang tua. Pun jika sesungguhnya kalian tidak mengizinkan, aku tidak akan melanjutkan rencanaku.

Ayah, Ibu. Terima kasih karena tlah meridhoiku. Hm. “Silahkan Nak, untuk waktu yang lama bisa kita tunggu,mengapa untuk waktu yang sebentar tidak bisa kita tunggu? Selamat berjuang sayang. Ibu dan ayah senantiasa mendoakan yang terbaik.”

Ah, Ibu. Kalimatmu menenangkan.

Bu, aku mendengar tadi malam suara ibu terisak, aku yakin airmata Ibu berlinang. aku paham betul. Ibu terharu ya bu? Bu, ini karena doa-doa kalian. Ah, akupun tak menyangka sebelumnya Bu. Ibu, Ayah, mohon doanya.

Sekarang aku mantap menentukan pilihan. Doakan aku. Allah ridhoi rencanaku ini Rabb, izinkan aku membuat Ayah dan Ibu bangga. Ayah dan Ibu harus menjadi orangtua paling bahagia di dunia!

 

 

Markas Inspirasi, 11 Agustus 2012

“Ini ulahku yang kesekian. Aku bungsu. Aku berbeda. Mohon doanya”

Tertanda: Tria Gustiningsi

Tentang mutiarakeluarga

aku adalah orang biasa, tapi dengan semangat yang luar biasa tak pernah berhenti berjuang menggapai cinta Allah, dan berjuang mengukir senyum kebanggaan di wajah orangtua....
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

4 Balasan ke Saat Si Bungsu Berulah Lagi

  1. DPratiwiiest berkata:

    sepertinya……………

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s