Seandainya aku adalah Kartini

Habis gelap terbitlah terang

Iya, itu judul buku yang isinya tentang surat-surat Ibu kita Kartini, seorang wanita hebat yang memperjuangkan hak-hak wanita pada saat itu agar memiliki kesempatan yang sama dengan laki-laki terutama dalam memperoleh pendidikan. Jika kita susuri sejarah Kartini, mungkin kita akan kagum dengan kecerdasan dan keberaniannya yang luar biasa. Dibaca dari surat-surat beliau, saya simpulkan juga bahwa Kartini adalah seorang yang religius. wallahu’alam.

Beberapa surat Kartini:

“Ingin benar saya menggunakan gelar tertinggi, yaitu: Hamba Allah (Abdullah).”

[Surat Kartini kepada Ny. E.C. Abendanon, 1 Agustus 1903]

“Menyandarkan diri kepada manusia, samalah halnya dengan mengikatkan diri kepada manusia. Jalan kepada Allah hanyalah satu. Siapa sesungguhnya yang mengabdi kepada Allah, tidak terikat kepada seorang manusia pun ia sebenar-benarnya bebas.”

[Surat Kartini kepada Ny. Ovink, Oktober 1900]

Iya, benar. sesungguhnya gelar tertinggi manusia adalah Hamba Allah.. Bukankah tujuan manusia di bumi ini pun adalah untuk mengabdi kepada Allah?

Dalam QS.Adz-dzariyat: 56, Allah berfirman bahwa :

“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepadaKu”

Subhanallah… aku bergidik.

Lalu, ku baca lagi surat Kartini.

“Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak perempuan, BUKAN SEKALI-SEKALI KARENA KAMI MENGINGINKAN ANAK-ANAK PEREMPUAN ITU MENJADI SAINGAN LAKI-LAKI DALAM PERJUANGAN HIDUPNYA. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.”

[Surat Kartini kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902]

“Kami sekali-kali tidak hendak menjadikan murid-murid kami menjadi orang-orang setengah Eropa atau orang-orang Jawa Kebarat-baratan.”

[Surat Kartini kepada Ny. E.E. Abendanon, 10 Juni 1902]

“Sudah lewat masanya, tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya yang paling baik, tiada taranya. Maafkan kami, tetapi apakah ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah ibu menyangkal bahwa di balik hal yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal yang sama sekali tidak patut disebut sebagai peradaban?”

 [Surat Kartini kepada Ny. E.C. Abendanon, 27 Oktober 1902]

Lagi-lagi aku terkagum, betapa seorang Kartini sangat peduli dengan pendidikan, betapa seorang Kartini peduli dengan bangsa, betapa seorang Kartini peduli dengan wanita. Wanita adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya, sudah seharusnya wanita itu cerdas dan berpendidikan agar dapat mendidik anak-anaknya dengan luar biasa.

Menyiapkan generasi penerus Bangsa yang tangguh, yang berkarakter, yang bermoral, yang takut kepada Tuhannya !

Ibu adalah madrasah yang efektif. Apabila anda menyiapkannya dengan baik, berarti anda menyiapkan bangsa yang baik keturunannya“.

Iya,  aku pun  jadi teringat dengan kalimat yang pernah diucapkan oleh ibuku bahwa “Mendidik satu wanita sama saja dengan mendidik satu generasi”.

Aku dibuat takjub! Betapa berharganya menjadi wanita🙂

Subhanallah.. tak akan ada habis-habisnya jika  membahas mengenai wanita. Betapa wanita itu sangat istimewa. Maaf, bukan maksudku untuk mengenyampingkan laki-laki. Aku takjub betapa islam memuliakan wanita.Aku berbicara mengenai wanita karena aku adalah wanita. Iya, agar aku dapat mengambil hikmah dan berproses bagaimana menjadi wanita hebat seperti mereka, bagaimana menjadi ibu yang tangguh seperti mereka.  Agar aku dapat menjawab pertanyaan Anis Mata yang mengatakan “Ataukah tak lagi ada wanita di negeri ini yang mampu melahirkan pahlawan? Seperti wanita-wanita Arab yang tak lagi mampu melahirkan lelaki seperti Khalid bin Walid”

Tahu dengan Khalid bib Walid kan ? Dia adalah seorang panglima perang yang pemberani, yang dijuluki sebagai Saifullah Al-Maslul (pedang Allah yang terhunus). Subhanallah, Ibunya pasti hebat!

Aku pun terhanyut pada kisah-kisah wanita hebat di zaman Rasulullah.. Betapa membuatku meneteskan air mata. Subhanallah, begitu indahnya Allah menciptakan wanita.

aku terpekur memahami kisah bunda tercinta. Kisah seorang wanita yang membuat nabi Muhammad tak bisa melupakannya. Iya, dia adalah Khadijah Radhiyallahuanha. Dia adalah wanita pertama kali yang masuk islam. Orang pertama yang shalat bersama Rasulullah Salallahualaihi wassalam. Subhanallah indahnya. Dia adalah seorang yang saat belum masuk islam pun ia sudah dijuluki sebagai Ath-Thahirah (wanita yang suci). Dia adalah wanita yang memberikan keturunan kepada Nabi. Dia adalah seorang wanita yang saat dia sudah meninggal pun Rasulullah tetap menyebut namanya. Dia adalah seorang wanita yang berhasil membuat Aisyah cemburu luar biasa karena Rasulullah sering sekali teringat padanya padahal ia telah tiada. Dia adalah seorang wanita tangguh, bijaksana, pengasih, cerdas. Subhanallah.

Dia beriman kepada Nabi SAW di saat semua orang kafir kepadanya. Membenarkan risalah beliau di saat semua orang mendustakannya. Mengorbankan seluruh hartanya untuk kepentingan beliau di saat semua orang enggan memberinya, dan wanita yang memberi keturunan kepada beliau.”

Lalu aku dibuat takjub lagi dengan kisah Fatimah binti Rasulullah. Seorang wanita yang memiliki jiwa tenang dan tegar. yang memiliki hati yang bersih. Dia adalah seorang wanita pemberani. Dia adalah seorang wanita mulia yang pandai menjaga hatinya. Subhanallah.

Allah, indah sekali.

Aku terpekur menyusuri kisah-kisah mereka. Bisakah aku seperti mereka?

Semoga aku, kamu, dia, mereka, dan kita semua bisa menjadi wanita hebat seperti mereka. Wanita yang menginspirasi dunia, wanita yang melahirkan anak-anak yang hebat dan tangguh, wanita yang mendidik para soleh dan solehah, wanita yang berhasil membuat bidadari cemburu. aamiin.

Lalu apa hubungannya tulisanku ini dengan judul yang ku buat “seandainya aku adalah Kartini”? Huah, maaf.maaf.. aku memang suka begini. Out Of the Topic. hihii

Intinya aku ingin bilang “SELAMAT HARI KARTINI”.

 

 

Markas Inspirasi, 22 April 2012

“aku bersyukur diciptakan Allah sebagai wanita”

Tertanda : Tria Gustiningsi

Tentang mutiarakeluarga

aku adalah orang biasa, tapi dengan semangat yang luar biasa tak pernah berhenti berjuang menggapai cinta Allah, dan berjuang mengukir senyum kebanggaan di wajah orangtua....
Pos ini dipublikasikan di ceLoteh aku ^_^ dan tag , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Seandainya aku adalah Kartini

  1. adi berkata:

    wanita seperti in yang jadi dambaan kaum adam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s