Lebih Perih dari Irisan Sembilu

Siang ini matahari dengan gagah menampakkan wujudnya hingga membuat kaki serasa tak kuat melangkah.. Menyengat sekali. Ku picingkan mata sambil berdiri di pinggir jalan menunggu angkot kuning untuk menuju kampusku. Ah sepertinya aku butuh waktu yang lama untuk menunggu. Iya, ini sudah jam 3 sore, sudah waktunya angkot mengangkut penumpang yang pulang dari kampus, bukan menuju kampus sepertiku..

Ku nikmati saja.

Dari kejauhan ku dengar suara segerombolan anak berteriak “ibuuuuuuuuuuuuuu”… Aku menoleh. Hey benar saja, ternyata mereka menyapaku. Lalu segerombolan anak berseragam putih biru itu berlarian dengan riang dan berteriak-teriak “ibuuu, kangeen,kangeeenn”… Ternyata mereka siswa-siswaku. Iya, siswa SMP di tempat aku PPL  dulu. Wah rinduku sudah sekian lama membuncah. Mereka mendekat ke arahku. Segera ku peluk mereka. Ibu rindu sekali sayang.

Hm, seketika itu matahari berubah tampak malu. Matahari redup, mungkin dia hendak menguping pembicaraan kita sayang. aku tersenyum bangga sekali. Yess, matahari tampaknya sedang cemburu.

“Apa kabar kalian ? Bagaimana sekolahnya? “, tanyaku antusias

“Alhamdulillah, luar biasa, Allahu Akbar !”, jawab mereka kompak

Wah, kalian masih ingat saja dengan teriakan itu, budidayakan ya Nak. hehe

Lalu, gimana di sekolah ? cerita donk sayang, ibu kangen“, pintaku

“Ibu pengen tahu kabar buruk atau kabar baik bu ?“, tanya mereka dengan manja

Hmm, apa ya? yang baik aja deh“, sahutku penasaran

“Bu, si “itu” ga sekolah lagi, si “ini” juga sudah berhenti sekolah Bu”, lapor mereka

Aku tersentak. Perih sekali. Kabar baikkah ini ? Sayang, ibu pengen dengar kabar baik, tapi nampaknya kabar ini lebih penting sehingga tak sabar untuk kalian ceritakan.

“Mengapa putus sekolah ? si “itu” kenapa ? si “ini” kenapa ? dia baik2 saja kan? lalu kenapa? Sejak kapan ?”, aku memburu mereka dengan pertanyaan-pertanyaan yang serasa tak sabar menghujam

“bla.. bla..bla…bla..”, celoteh mereka menjelaskan.

Astaghfirullahaladzim.. Langit siang ini serasa runtuh. Aku bagai dihantam godam. Peluru panas tepat menusuk ulu hati.. Perih sekali. Lebih perih dari irisan sembilu. Allah, apa yang terjadi pada 2 orang anakku itu ? aku kenal betul dengan 2 anak itu. Anak yang pertama itu sering sekali duduk berdua dan bercerita denganku. Aku miris melihat wajah murungnya itu. “Kenapa sayang ? ada masalah apa?. Ya, aku ingat jelas dengan “tanyaku” setiap aku bertemu dengannya. Sayang, mengapa putus sekolah ? Ada kaitannya kah dengan masalah yang pernah engkau utarakan waktu itu Nak ? Sayang, bukankah engkau pernah bercerita pada Ibu bahwa engkau ingin jadi seorang guru Nak. Seorang guru cantik nan bersahaja. Iya kan sayang ? Itu mimpimu kan ? Lalu kenapa memutuskan untuk mengakhiri pendidikanmu ? Sayang, bukankah engkau sudah berjanji pada Ibu bahwa engkau tidak akan bolos sekolah lagi dan engkau tak akan murung lagi ? Iya kan sayang ? Masih ingat dengan janji itu kan Nak ? Janji yang engkau ucapkan di depan perpustakaan kala itu. Ingat kan Nak ?

Lalu, mengapa memutuskan untuk tidak sekolah lagi Nak ?

Allah, perih sekali.

Aku juga kenal betul dengan anak satunya lagi. Ah, aku memang bukanlah siapa-siapa. aku bersama mereka hanya 3 bulan. aku hanya “sok tahu”. Ah sayang, ingatkah saat engkau mendapatkan nilai 100 di saat teman-temanmu masih dalam keadaan bingung saat itu ? Lalu mereka termotivasi karenamu Nak. Mana bintang yang sering Ibu sematkan di seragam sekolahmu ? Nak, ibu memang tidak tahu betul masalah kalian, masalah keluarga kalian, masalah psikologis kalian. Tapi berita ini sungguh menyakitkan sekali bagi Ibu. Kita pernah berjanji saat itu bahwa suatu saat kita akan bertemu dalam keadaan yang lebih baik. Kita akan bertemu dan menjadi “seseorang” sesuai yang kita impikan.

Kalian masih mencatat mimpi itu kan ? Ibu sedang berproses menggapai mimpi itu Nak. Kalian masih ingat dengan janji itu kan ? Ah, maaf.. Maaf sayang.. Ibu tidak tahu bagaimana kondisi kalian.

Anak-anakku, matahari yang tadi tampak malu, kini menangis. Iya, hujan berderai. Langit pekat.

Perih sekali di ulu hati, lebih perih dari irisan sembilu. Bagaimana tidak, kalian adalah generasi penerus Bangsa ini. Banyak sekali harapan Ibu kepada kalian. Kalian adalah anak-anak cerdas Nak. Ibu selalu bilang bahwa ada mutiara di sekolah ini. Tunjukkan pada dunia bahwa ada mutiara berharga di sekolah ini ! Kalian Bisa, Kalian anak-anak hebat, kalian punya potensi. Tanamkan dalam hati kalian. Hujamkan ke dalam dada Nak !

Allah, ridhoi mereka..

Anak-anakku, untuk kesekian kalinya Ibu terpekur saat mengenang kalian. Subhanallah, banyak sekali hikmah berharga yang Allah titipkan melalui kalian. Perjuangan kalian untuk sekolah, kegigihan kalian, masalah-masalah yang membelit tubuh mungil kalian. Ah, kalian membuat Ibu sadar Nak. Perjuangan ibu ternyata belum ada apa-apanya.

Allah.. Innakata’alamuannahadzilqulub..

 

aku harus segera bertemu mereka, harus segera bertemu mereka, membagi semangat ini.. Iya, membagi semangat ini !

Markas Inspirasi, 12 April 2012

“air mata ini tentang kalian.. Allah, perih sekali”

Tertanda : Tria Gustiningsi

Tentang mutiarakeluarga

aku adalah orang biasa, tapi dengan semangat yang luar biasa tak pernah berhenti berjuang menggapai cinta Allah, dan berjuang mengukir senyum kebanggaan di wajah orangtua....
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s