Astra, Menemani Sejak Dulu Hingga Kini

Berbicara mengenai layanan yang diberikan Astra kepada masyarakat Indonesia, aku bertanya kepada Bapakku yang dari dulu hingga sekarang mempercayai produk Astra sebagai sarana transportasi keluarga kami. “Bapak sejak masih bujangan sudah pakai honda, Nak,” ujar Bapak kepadaku sambil tersenyum. “Dulu, sebelum tahun 1980-an, sebelum Bapak menikah dengan Ibumu, motor pertama yang Bapak beli dengan uang sendiri adalah motor Honda CB 125, kalau ga salah dulu harganya lima ratus ribu, Bapak beli dengan uang tabungan Bapak,” ungkap Bapak dengan ekspresi bangga.

Percakapan ini membuat Bapak sedikit bernostalgia dengan masa mudanya, mengingat kembali kendaraan pertama yang ia beli dengan uang sendiri, lengkap dengan berjuta kenangannya. “Setelah menikah dengan Ibu, tahun berapa Bapak beli motor lagi? Tetap hondakah?” tanyaku penasaran. “Tentunya,” jawab Bapak dengan sangat pasti. “Sebelum kamu lahir, Bapak beli motor Honda Astrea 800, kemudian sekitar 6 tahun kemudiannya lagi Bapak beli motor Honda Prima, Bapak sudah nyaman sekali dengan honda, kamu lihat saja sampai sekarang motor-motor yang ada di rumah kita ya honda.”

honda-beat.jpg

Gambar 1. Keempat motor Honda Beat kami

 

Aku kemudian menyebutkan satu persatu motor yang ada di rumah. “Pak, motor honda beat warna merah ini Bapak beli tahun berapa?” tanyaku. “Motor beat warna merah Bapak beli tahun 2011, di tahun yang sama Bapak beli juga motor beat kita yang warna putih untuk Bapak pergi mengajar, kedua motor ini sudah 6 tahun ini dan masih awet, belum pernah bongkar mesin, onderdilnya pun masih standar semua,” ujar Bapak.

Bapak menguraikan alasan mengapa Bapak sudah begitu nyaman mempercayakan honda sebagai kendaraan keluarga kami. “Motor beat yang berwarna merah itu sering menempuh perjalanan jauh sekitar 64 km tujuan Palembang-Sirah Pulau Padang (Ogan Komering Ilir), kakakmu bolak balik setiap minggu sampai tahun 2013-an karena saat itu kakakmu masih menyelesaikan kuliahnya di Palembang, tapi alhamdulillah aman, motor tetap bagus, mesinnya tetap awet,” jelas Bapak.

Aku kagum sekali, aku juga merasakan betul perjalanan Palembang-Sirah Pulau Padang (Ogan Komering Ilir) setiap minggu dengan Honda beat warna biru yang dibelikan Bapak untukku tahun 2014 lalu. Selain mesin tetap awet, perjalananku dengan jarak 64 km itupun memerlukan bensin kurang dari 2 liter. Jika diisi Bapak 2 liter bensin ketika aku hendak ke Palembang, maka saat sampai di Palembang dengan sisa bensin yang ada aku masih bisa menggunakan motorku untuk ke kantor selama 2 hari ke depannya lagi. Sangat irit.

“Motor putih yang satunya lagi yang Bapak beli tahun 2017 ini untuk keperluan Ibu mengajar. Keempat motor kita semuanya honda. Honda ini irit, hemat bensin, motor ini masih tetap bisa berjalan walau bensinnya masih tersisa seujung tutup botol air mineral. Haha,” tawa Bapak melanjutkan obrolan kami. “Dan juga  onderdilnya, sparepart-nya juga mudah didapatkan, Nak,” sambung Bapak. “Kalau kita jual motor yang sudah kita pakai ini, harga jualnya juga masih tinggi. Begitu banyak sekali kelebihan dan kemudahan yang kita dapatkan selama menggunakan Honda” ujar Bapak lagi menjelaskan.

Bapakku berumur 58 tahun. Percakapan dengan Bapak membuat aku berpikir betapa Astra sudah menjadi bagian kehidupan Bapak, lebih dari separuh umur Bapak, dan otomatis kehidupanku juga karena sejak lahir hingga sekarang aku sudah dikenalkan Bapak dengan Honda, berkendara dengan Honda. Akupun merasakan kenyamanan yang sama seperti yang Bapak utarakan. Kepercayaan kami memilih Honda atau Produk Astra sebagai transportasi keluarga kami bermula dari Bapak, kemudian aku dan kakak-kakakku (anak Bapak), hingga keponakanku (cucu Bapak). Aku takjub, betapa Astra sudah melayani dan memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat sejak dulu hingga kini, dari generasi ke generasi.

 

Penulis            : Tria Gustiningsi

Email               : triagustiningsi@yahoo.co.id 

Iklan
Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

RBC, selalu di hati :)

Tanggal 4 November aku dan Kak Mardho mewakili teman2 Rumah Belajar Ceria (@rbceria ), bersama tim ACT (@act_sumsel ), berkesempatan mengisi talkshow yang diadakan oleh mahasiswa Prodi Ilmu Kesejahteraan Sosial STISIPOL Palembang.

Kami berbagi cerita dari awal terbentuknya Rumah Belajar Ceria (RBC) hingga sekarang program2 semakin meluas, tidak hanya di bidang pendidikan saja, tapi juga ke pemberdayaan masyarakat disana.


Ini talkshow yg seru dan berkesan sekali. Aku ingat betul pd sesi tanya jawab, salah satu dosen mengangkat tangannya tapi bukan utk bertanya, dengan suara tersekat menahan air mata, beliau bilang “saya bukan ingin bertanya, saya hanya ingin mengungkapkan perasaan saya bahwa hari ini saya sangat bahagia. Saya bahagia karena bertemu kalian. Saya kalah. Saya doktor di bidang ilmu sosial, tapi saya merasa belum melakukan sesuatu yg telah kalian dan teman2 kalian lakukan. Saya menyatakan diri utk bergabung, saya ingin bergabung.”


Masyaallah, hatiku gerimis. Banyak yg sayang dengan RBC. Banyak yg simpati dgn aura polos adik2 dan “kesederhanaan” kondisi warga dan desa disana. Semoga RBC semakin panjang umur dan berkah. Semoga semakin banyak pula komunitas2 kebaikan dimanapun berada. Aamiin Ya Rabbal’alaamiin.

Sukses selalu utk teman2 mahasiswa @himakesos

 

 

Rumah penuh cinta, 16 Desember 2017

“Latepost”

Tertanda:

Tria Gustiningsi

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Oktober penuh cerita

Beberapa minggu di bulan oktober ini dibuat galau dgn lokasi tes cpns yg kuambil.
Kegalauan ini dipicu karena tidak ada 1 pun teman yg aku kenal yg memilih lokasi yg sama, bukan karena mereka tidak ada mengambil formasi yg sama denganku tapi karena akunya salah pilih wilayah tes. Haha
Kalimat “wilayah ujian sesuai dgn wilayah yg dipilih”  kutafsirkan dgn “jika aku memilih Universitas di tanjungpinang, maka aku harus memilih wilayah tes di tanjungpinang (kepulauan riau) juga.” sehingga aku pilihlah wilayah 9. 😂
Tapi ternyata eh ternyata, wilayah tes utk CAT ini bisa dilaksanakan di Palembang, sesuai wilayah asal peserta. Hwkwk


Lalu, apa yg terjadi? Tentu saja aku galau. Aku mndpt informasi bhw rencana lokasi tes di Tanjungpinang tersebut jauh dari pusat kota, tdk ada transportasi umum kesana, tdk ada penginapan jg disekitar itu.
Berkali2 aku meminta pendapat suami apakah aku tetap melanjutkan utk tes atau tidak. Kebetulan perkiraan tanggal yg diinformasikan kementerian antara tgl ujianku dan ujian suami sama, tapi di tempat yg berbeda, sehingga kecil peluang utk suami menemaniku ke sana.
Suami selalu menenangkan “kita istikhoroh dulu ya, kita minta petunjuk sm Allah, jika menurut Allah ini baik, maka insyaallah akan dimudahkan.”
Setiap hari aku trus kepikiran, maju mundur rasanya, antara ingin melanjutkan tapi lebih cenderung ke mundur saja.
Setiap aku ragu, suami selalu menanyakan “sudah istikhorohnya? Gimana?”.
Sambil terus suami mencarikan solusi, bertanya kpd teman2nya, mncari tahu informasi kesana, dll.
Suami terus memotivasi dan menguatkan hatiku, “sayang ingatkah dgn pribahasa di film tenggelamnya kapal vanderwick? lebih baik mati tenggelam daripada berbalik arah.”
Kemudian menenangkanku dgn kalimat yg justru sering aku ucapkan sendiri bahwa “jika banyak kesulitan2 atau kendala2 yg kita hadapi saat dlm proses mencapai suatu tujuan, maka curigailah bhw tujuan yg ingin dicapai itu semakin dekat.”
Aku seraaap semua itu. Aku mengerti 2 kalimat ini secara tersirat bermakna “kita sudah sampai pd tahap ini, ayo lanjutkan perjuangan.”
Sip, ridho suami sudah aku dapatkan.

Aku melanjutkan istikhoroh.
Akhirnya, atas izin Allah, sampailah aku pada titik yakin utk terus melanjutkan perjuangan, dan aku sampaikan dgn suami.
Sip, artinya tidak ada galau2 lagi.
Kemudian beberapa hari yg lalu, keluar pengumuman tanggal tes dan lokasi yg resmi dr kemenristekdikti.
Qadarullah, lokasi tes berubah, lokasi tes dilaksanakan di kota batam, di pusat kota. Terang saja aku bahagia dan alhamdulillah ada keluarga yg tinggal disana. Dan tanggal tesnya tepat kemarin, tgl 23 oktober 2017. Tepat di hari ulang tahun yg tersayang, suamiku.
“Kalau sayang lulus tes, alhamdulillah jadi kado utk abang”, ujarnya.

Okefine, sungguh, kado yg sulit tapi berhasil menyulut semangat. 😂
Finally, tes sudah dilaksanakan dgn baik, dan alhamdulillah.

Selamat milad suamiku, abangku, imamku, sahabat hidupku, semoga berkah umurmu, semakin sholih, semakin baik, semakin tangguh, slalu dlm lindungan dan kasih sayang Allah, tercapai segala yg kita harapkan dan cita-citakan. Aamiin Ya Rabbal’alaamiin.

 

Rumah penuh cinta

“Alhamdulillah, selalu menggebu menceritakanmu, suamiku.”

Tertanda:

Tria Gustiningsi

 

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Mengagumkan

Sungguh, sebagai manusia, tanpa sadar kita ini sering mengatur Allah. Ingin begini dan ingin begitu. Beberapa kali kenyataan yang terjadi sering dibelokkan oleh Allah, tidak sesuai dengan keinginan kita, lalu kita meratap begini dan begitu. Hingga suatu hari pernahkah kita merenungi bahwa belokan yang Allah takdirkan itu justru karena untuk menggiring kita agar sampai pada tujuan yang menakjubkan? Hingga kita terperangah, terkaget-kaget dengan kuasa Allah, dengan akhir yang begitu indah. Oh Rabb.

Deg! Allahu akbar!

Ah manusia, fabiayyi alaa irabbikumatukadziban?

Ayo kita renungkan keadaan kita saat ini, ayo takjub dengan cerita hidup yang Allah gariskan. Allahu akbar.

Alhamdulillah.

 

Markas Inspirasi, 26 Juni 2016

“Aku berkali-kali takjub”

Tertanda:

Tria Gustiningsi

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Pengurai kata

Ekspresif!

Bagi orangtua dan sahabat-sahabatku, mungkin tidak asing lagi rasanya jika tiba-tiba aku menyampaikan perasaanku yang sebenarnya bahwa aku sedang marah pada mereka, sedang kecewa, ataupun sedang rindu. Ah sudah tak terhitung rasanya betapa banyak sahabat yang sudah menerima suratku. Begitupun bapak, ibu, dan kakak. Mereka sudah biasa menerima secarik kertas yang berisi ungkapan-ungkapan perasaanku. Pantas saja sejak kecil aku dipanggil “Pak pos”. Hahaa

Aku baru sadar sekarang. Dulu aku selalu marah jika tetangga memanggilku pak pos. Aku selalu protes dipanggil pak pos , tanpa tahu apa maknanya. Aku baru sadar sekarang.

Surat.

Entah, aku merasa ungkapan kata dalam tulisan lebih bisa mewakili perasaanku yang sebenarnya dan terkesan surprise, serta bisa disimpan oleh si penerima surat untuk dibaca berulang-ulang.

Hm, ada sahabatku yang aku sendiri bahkan lupa pernah menulis surat untuknya, tapi ternyata surat itu disimpan rapi olehnya dan ditunjukkan padaku lagi setelah beberapa tahun kami tidak bertemu. Dia tunjukkan dan menangis. Oh Rabb 😦

Aku pernah menulis surat untuk kakakku. Ah sekitar 10 bulan yang lalu. Aku ingat betul. Itu surat paling dramatis dan mengharukan yang pernah aku buat. Aku yakin kakak masih menyimpannya dengan baik.

Surat. Hm, entah beberapa minggu yang lalu aku rasanya tak kuasa menulis surat. Ada hal penting yang harus aku sampaikan pada Bapak. Kuputuskan untuk berbicara mata ke mata dengannya. Dan pembicaraan ini adalah pembicaraan paling serius sepanjang hidupku.

Bapak tertawa. Ah bapakku selalu punya cara terbaik menanggapi perasaanku.

 

Ekspresif. Caraku menyampaikan apa yang sedang aku rasakan dengan cara terbaik. Aku memiliki pemahaman bahwa tak ada boleh yang menyangkut di hati dalam seharipun. Jika marah, maka selesaikan segera, bukan dengan cara memendamnya lalu marah-marah. Hehe.. Setiap hari, haruslah berbahagia 🙂

 

Markas Inspirasi, 20 Mei 2016

“Yang hobi menulis surat”

Tertanda: Tria Gustiningsi

 

Dipublikasi di Uncategorized | 4 Komentar

Yang senantiasa hadir :)

“Juk, laptop juk, lihat alif juk”, pinta salah satu keponakanku yang berumur 2 tahun. Begitu dia meminta izin padaku jika ingin menonton video bernyanyi huruf hijaiyah di laptop.

Akbar Maryadi. Begitu nama yang diberikan kakak kepada anak pertamanya ini. Kami memanggilnya Akbar. Meski umurnya baru 2 tahun, tapi kecerdasannya melebihi anak seusianya. Setiap aku mudik ke rumah, banyak hal yang baru yang selalu aku cobakan padanya. Haha. Mengajaknya berdialog bahasa inggris, mengajak bernyanyi, berhitung, menonton video lagu anak-anak dan huruf hijaiyyah, ataupun mencobakan permainan baru.

Untuk berdialog bahasa inggris, jika ditanya “What’s your name?”, dia akan menjawab “My name’s Akbar”, atau “Akbar”.

“Do you like football?”, dia akan menjawab “Yesssss”.

Untuk berhitung, dia sudah bisa berhitung dari 1 sampai 10 dengan baik dan tidak terbalik-balik. Di rumah, kami selalu melibatkan dia untuk menghitung benda yang sedang dilewati atau saat dia sedang membereskan mainannya, atau jumlah makanan, atau naik tangga, dan lain-lain. “atu, wa, ga, pat, ma, nam, ju, apan, ilan, uluuuh”, begitu teriaknya. Masya Allah, cerdas!

Dia bisa bernyanyi banyak lagu. Lagu “tik tik bunyi hujan”, lagu balonku, hingga lagu “sayonara”. Sekarang ini dia sedang senang lagu burung hantu dan suka sekali menonton video huruf hijaiyyah. Saat mudik 2 minggu yang lalu, aku mengenalkannya dengan video burung hantu itu, aku bermaksud mengajarkan padanya bahwa jika hari gelap itu tandanya malam, dan kita tidak perlu takut dengan malam, hingga suara burung hantu pun sebenarnya merdu. *langsung puter backsound lagu burung hantu*. Hihii

Video huruf hijaiyyah dengan maksud mengenalkan huruf hijaiyah kepadanya secara tidak langsung. Dalam video itu, ada huruf alif yang lompat-lompat dan berteman dengan huruf ba, ta, dan huruf hijaiiyah yang lainnya. Dalam video itu si huruf alif berwarna merah dan menjadi pemimpin dari huruf yang lain sehingga Akbar fokus sekali dengan Alif. Hahaa. “Mana alif juk? Koq hilang alifnya? Mana alif?”, tanyanya gelisah saat dalam video itu alif menghilang dan sedang ditampilkan huruf lain.

Masya Allah, cerdasnya keponakanku.

Oh iya, walaupun umurnya baru 2 tahun, Akbar rajin ikut ayah dan bundanya sholat. Ketika aku mudik, setiap kali aku harus menguatkan diri jika dia ikut sholat karena aku hampir tidak bisa menahan tertawa. Haha. Tingkahnya lucuuu sekali, bahkan pernah saat rukuk dia buang angin dengan suara besaaaaar, tapi dengan polos dia terus ikut hingga akhir. Coba bayangkan bagaimana jika sedang di posisi kami. Haha.

Keponakanku satu ini kinestetik sekali. Permainanya melibatkan semua anggota tubuh dan tenaganya. Berlari-lari, main mobil-mobilan, ayunan, menendang bola sambil teriak “Goooooollll”, bahkan saat aku mudik 2 minggu yang lalu, dia sudah bisa main layang-layang. Kami ikatkan tali sepanjang 1  meter pada layang-layang itu dan dia tarik sambil berlarian.  “Nah terbaaang, terbaaaang”, ungkapnya takjub.

Lagi, walau umurnya baru 2 tahun, Akbar disiplin sekali membereskan mainannya jika selesai bermain. Dibereskan lalu dikembalikan persis ke tempat asalnya.

Dengan umurnya yang baru 2 tahun, dia tumbuh menjadi anak yang ramah, menegur orang yang lewat atau datang ke rumah kami. Dengan umurnya yang baru 2 tahun, dia adalah bayi yang penyayang. Mengusap kepala sepupunya (keponakanku juga) yang baru berumur 1,5 tahun dan bersedia mengalah jika si adek meminjam mainannya. “Adek Bill, sayang Adek Bill”, celotehnya.

Walau tidak dapat dipungkiri, dengan umurnya yang baru 2 tahun, ada kalanya dia berada pada posisi egoisnya atau tiba-tiba marah karena ada hal yang tidak sesuai keinginannya, namun mudah ditenangkan. 🙂

Masya Allah, semoga tumbuh jadi anak yang sholih ya sayang, tumbuh jadi anak yang cerdas, hafiz quran. Aamiin Allahumma Aamiin.

Kak Fadel, Bang Iam, Adek Bill. Keponakan yang juga kesayanganku, mereka juga punya ceritanya masing-masing dengan karakter yang berbeda-beda. One day, akan kutuliskan.

Terkirim doa untuk kalian juga ya sayang, semoga jadi anak yang sholih, cerdas, hafiz quran. Aamiin Allahumma Aamiin.

*peluk satu-satu*

 

Markas Inspirasi, 22 April 2016

“Masya Allah, rindu. ”

Tertanda: Tria Gustiningsi

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Selamat milad, Kakak :)

18 Maret 2016. Tanggal kelahiran seseorang yang sangat aku sayangi. Kakak. 🙂

Sore ini aku menelponnya, mengucapkan selamat hari lahir dan memberitahu doa-doaku untuknya. Walau sedang bekerja, ia bersedia diganggu olehku. Haha. Kakak selalu begitu. Hm, tapi aku tidak kuat lama-lama menelpon kakak, aku tidak kuat lama-lama mendengar suaranya.. Lama-lama mendengar suara kakak membuat aku sesak menahan rindu. Dan benar, setelah menutup telepon, aku menumpahkan tangisku sejadi-jadinya.  Aku sungguh merindukannya.

Kakak, entah kalimat seperti apa yang mampu mewakili ungkapan kerinduanku ini. Rinduku padanya kuwujudkan dalam doa-doa di setiap sholat, mendoakan kebaikan sambil membayangkan wajahnya. Kakak, aku rindu. Kakak, aku bersyukur dilahirkan sebagai adikmu. Aku bersyukur memiliki kakak yang penyayang, aku bersyukur memiliki kakak yang berada di dekatnya aku tenang, yang bersedia mendengarkan ceritaku, yang selalu menunjukkan ekspresi bahagianya setiap kali aku datang, yang selalu tertawa setiap kali aku memercikkan sisa air wudhu di jari ke arahnya (maafin adek ya kak). 😀

Kakak, semoga berkah umurmu, semoga selalu dalam lindungan dan penjagaan Allah, semoga selalu dalam ridho Allah, semoga menjadi manusia yang semakin bertaqwa, bermanfaat bagi banyak orang, menjadi suami yang baik untuk istrimu, menjadi ayah yang baik untuk anakmu, menjadi sebaik-baik hamba dihadapan Allah. Aamiin Allahumma Aamiin.

Kak, semoga selalu sehat.

Kak, aku bahagia memilikimu. Tak henti kesyukuranku. Aku bahagia lahir setelahmu. Kak, terima kasih tlah mencontohkan banyak kebaikan padaku, terima kasih tlah menjadi kakak yang baik, terima kasih tlah memperhatikan aku, terima kasih tlah bersedia mendengar semua ceritaku, terima kasih tlah ikut tertawa bersamaku, terima kasih tlah menjagaku, terima kasih tlah menjadi imam sholat di rumah.

Selamat ulang tahun yang ke-30 ya kak.

 

Markas Inspirasi, 18 Maret 2016

“Aku tahu salah satu isi doamu untukku tahun ini kak.hihi.”

Tertanda: Tria Gustiningsi

Dipublikasi di Uncategorized | 2 Komentar

Jangan mencariku

Jika engkau ingin mencariku, jangan cari aku di bumi. Engkau tak akan temui.

Carilah aku di langit. Dalam doa di sepertiga malam.

 

Markas Inspirasi, 17 Maret 2016

“Karena aku juga tak mencarimu di bumi”

Tertanda: Tria Gustiningsi

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Kesayangan

Aku mau mudik pagi ini. Rindu rasanya bertemu ibu dan bapak. Dari kemarin ibuku sudah menelpon “Adek pulang hari apa? Ibu mau masak.”

Hm, tapi pagi ini aku tiba-tiba mellow.

Aku tiba-tiba teringat semua kasih sayang orang disini. Aku merasakan kasih sayang dimana-mana. Walaupun ibu dan bapakku jauh disana, tapi disini, di kota rantau ini aku merasa memiliki banyak orang tua. Banyak yang sayang dan menganggapku layaknya anak sendiri. Aku merasakan doa ibu dan bapakku menjala-jalar, aku merasa Allah betul-betul memperhatikanku dan Allah gerakkan hati orang-orang disekitarku untuk sayang dan turut menjagaku.

Di sini, aku punya banyak mama, ibu, emak, mamak, papa, ayah, bapak, dan semuanya sayang padaku. Mereka rata-rata adalah orangtuanya temanku. Bahkan ada mama yang jika aku silaturahim ke sana, mama memintaku untuk menginap di rumahnya dan dia memasakkan makanan kesukaanku. Ah persis layaknya mudik ke rumah. Jika aku lama tak silaturahim, temanku akan bbm “Tria ditanyain mama, kenapa sudah lama ga kesini.”

Ah, indah sekali disayangi seperti ini.

Dan akupun tak canggung, kalau pagi-pagi aku belum sarapan, kadang aku datang ke rumah temanku dan bilang ke mama “Ma, Tria makan ya maaaa.”

Hahaaa..

Dan mama senang sekali. Hahaaa

Tidak hanya orangtua temanku, sampai saudara-saudaranya pun sayang, keponakannya pun girang sekali jika aku datang. Menempel-nempel di dekatku sambil bilang “Bunda Iya, Bunda Iya”.

Aku sering ke rumah temanku hanya untuk menemui mama, walaupun temanku sedang tidak ada di rumah. Mamanya sudah seperti ibuku sendiri.

Oh Rabb, terima kasih.

Begitupun dengan tempat kerjaku. Ya Allah, mereka sayang sekali padaku. Mereka memperhatikanku sedemikian rupa. Mencium tangan mereka rasanya syahdu sekali.

Nyaman sekali aku berada dimana-mana.

Terima kasih ya Allah untuk kasih sayang yang selalu Engkau hadirkan di hati orang-orang di sekitarku. Terima kasih Allah telah membalas kebaikan ibu dan bapakku dengan cara menggerakkan hati orang lain agar baik padaku. Alhamdulillah.

 

Markas Inspirasi, 11 Maret 2016

“Aku mudik pagi ini, melepas rindu pada setiap sudut rumah”

Tertanda: Tria Gustiningsi

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Gerhana

9 Maret 2016, gerhana matahari. Baru kali ini seumur hidupku menemui peristiwa luar biasa ini, dan kebetulan Sumatera Selatan adalah salah satu provinsi yang dilalui oleh Gerhana Matahari Total (GMT). Aku memilih untuk menyaksikan GMT ini dari kosanku saja. Dari sebelum shubuh hingga pagi masjid di dekat kosanku syahdu dengan lantunan dzikir, indah, masya Allah. Dilihat dari tv, ditampilkan proses gerhana matahari di berbagai tempat di Indonesia. Ya Rabb, aku merinding, menangis, betapa hebat kuasaMu Ya Rabb. Kami bukanlah apa-apa. Rabb, ampuni kami. 😥

Dipublikasi di Uncategorized | 1 Komentar